Dialog Nasional Mega Bintang, Jumhur Hidayat: Lawan Oligarki dan KKN
Reportase, editor: Agusto / Foto: Ist Jalurdua.com - Solo | Wadah massa "wong cilik" yang menamakan dirinya Mega Bintang pada hari Selasa kemarin 5/6/2022 di Kota Solo, Jawa Tengah menggelar dialo...
Reportase, editor: Agusto / Foto: Ist
Jalurdua.com - Solo | Wadah massa "wong cilik" yang menamakan dirinya Mega Bintang pada hari Selasa kemarin 5/6/2022 di Kota Solo, Jawa Tengah menggelar dialog Nasional pada peringatan hari jadinya yang ke 25 tahun.
Dalam acara itu ketua yang juga tokoh pendiri Mega Bintang, Mudrich Sangidu mengangkat Thema "Kedaulatan Rakyat vs Oligarki dan KKN"
Ketua KSPSI (Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia), Muh Jumhur Hidayat yang diundang oleh panitia didaulat untuk menjadi narasumber Dialog Nasional tersebut.
Dalam paparannya, Ketua KSPSI yang membawahi puluhan juta anggota diseluruh tanah air menyampaikan belum terwujudnya arti kemerdekaan ekonomi rakyat.
Hal itu ia sampaikan akibat pendapatan buruh hari ini tidak berbeda jauh dengan pendapatan buruh 100 tahun lalu saat jaman masa penjajahan kolonial.
Jumhur sampaikan pengalamannya waktu bertugas ke Sumatera saat acara dialog dengan buruh pekerja disana terkait pendapatan, yang kemudian ia bandingkan dengan penghasil buruh di pulau Jawa. Rata-rata upah buruh kita saat ini kisaran Rp.1,6 juta/bulan. Jika dibagi selama 30hr maka upah yang diterima kisaran Rp.55.000/hr, sedangkan harga beras saat ini sekitar Rp.11.000/hr. Artinya dengan harga beras kisaran Rp.11.000/kg maka penghasilah buruh sehari dapat beli beras atau setara dengan beras 5 - 6 Kg.
Selanjutnya ia membandingkan dengan penghasilan buruh 100 tahun lalu saat Bung Karno pidato disalah satu forum, bahwa upah buruh kala itu 45 Sen/hari, dan harga beras 7 Sen/kg, jadi upah buruh masa itu per-harinya dapat membeli beras atau setara dengan 5 - 6 kg harinya.
"Apa artinya kemerdekaan bagi ekonomi jika pendapatan buruh saat ini dibandingkan dengan 100 tahun lalu selisihnya tidak jauh, ini jelas membuktikan kesejahteraan yang diharapkan belum tercapai," terang mantan aktivis mahasiswa yang pernah menjadi tahanan politik dimasa orde baru dan orde reformasi.
Untuk mencapai tujuan kesejahteraan yang berpihak kepada rakyat ia mengharapkan dari pertemuan Dialog Nasional di forum HUT ke 25 Mega Bintang lahir gagasan dan tindakan konkrit untuk dapat menyingkirkan penindasan kepada rakyat yang dilakukan oleh Oligarki dan perilaku KKN.
Dalam dialog itu juga hadir sebagai narasumber antara lain: Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti (Ketua DPD RI); Syahganda Nainggolan (Pemikir, Aktivi drs Gerakan); Rocky Gerung (Pengamat Politik) Dr.Ferry Julianto (Sekjend Syarikat Islam); Lieus Sungkharisma (Tokoh Keturunan Tionghoa); Syukri Fadholi (DIY); Kol. Purn. Sugeng Waras; H. Boyamin Syaiman, SH (Ketua Presidum KAMI), serta sejumlah aktivis lintas poros dan angkatan, Andrianto, Wahyono, Hendry Harmen, Habil Maraty, Sutoyo Abadi, Fahmi, Harlan, Agusto Sulistio dan berbagai Organisasi Pemuda Solo.