News and Education Versi penuh
Teknologi

Fenomena Blackberry Kembali Diminati Gen Z, Petisi Online Muncul untuk Menghidupkan Kembali Ponsel Legendaris Ini

JALURDUA.COM - Ponsel Blackberry kembali mencuri perhatian, kali ini dari kalangan muda, khususnya Generasi Z. Perangkat yang sempat mendominasi pasar pada awal 2000-an itu kini menjadi incar...

Oleh Rahmat 30 Jul 2025 03:10 3 menit baca

JALURDUA.COM - Ponsel Blackberry kembali mencuri perhatian, kali ini dari kalangan muda, khususnya Generasi Z.

Perangkat yang sempat mendominasi pasar pada awal 2000-an itu kini menjadi incaran, bahkan hingga muncul sebuah petisi daring untuk menghidupkannya kembali.

Tren ini mengemuka di media sosial TikTok, di mana tagar #blackberry telah digunakan ratusan ribu kali oleh pengguna yang menunjukkan ketertarikan mereka terhadap ponsel dengan keyboard fisik tersebut.

Mengutip Android Police, seorang pendiri situs komunitas Blackberry, Kevin Michaluk, menjadi penggagas utama petisi ini. Ia meluncurkan kampanye melalui laman www.bringbackblackberry.com yang dapat diakses publik bagi siapa pun yang ingin mendukung kembalinya ponsel ikonik itu.

Kevin mengungkap bahwa salah satu alasan mengapa banyak Gen Z tertarik pada Blackberry adalah karena kejenuhan terhadap penggunaan layar sentuh yang mendominasi smartphone modern. “Para Gen Z juga mulai mendefinisi ulang sebuah Hp yang dirancang untuk komunikasi, bukan konsumsi,” jelasnya.

"Muak dengan Smartphone"

Minat terhadap Blackberry bukan hanya sekadar nostalgia. Laporan The New York Post pada Kamis (12/6) menunjukkan bahwa banyak Gen Z memburu Blackberry bekas di e-commerce, memamerkan ponsel lawas milik orang tua, bahkan menghias ulang perangkat tersebut. Keyboard fisiknya yang khas juga dianggap cocok untuk kebutuhan konten ASMR.

“Saya sudah muak dengan Apple, saya rela menyerahkan hampir segalanya demi sebuah Blackberry!” tulis seorang pengguna dalam salah satu unggahan TikTok.

Beberapa warganet juga berbagi cara mereka menemukan Blackberry bekas lewat platform seperti Facebook Marketplace, eBay, hingga Back Market. Salah satu faktor yang menjadi daya tarik adalah harganya yang jauh lebih terjangkau dibanding iPhone terbaru.

Di tengah tren smartphone berharga belasan hingga puluhan juta rupiah, Blackberry menjadi opsi menarik bagi mereka yang ingin kembali ke pengalaman menggunakan ponsel yang lebih sederhana namun fungsional.

Fenomena ini juga disebut sebagai bagian dari gerakan “anti-smartphone”, yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada perangkat pintar dan mendukung gaya hidup yang lebih mindful.

"Smartphone bukan lagi sumber kesenangan," ujar Pascal Forget, kolumnis teknologi dari Montreal, kepada CBC News. "Dulu menyenangkan, tapi sekarang orang kecanduan, jadi mereka ingin kembali ke masa-masa sederhana dengan menggunakan perangkat yang lebih sederhana."

Kecanduan Digital dan Keinginan Hidup Seimbang

Meski tumbuh di era digital, sebagian Gen Z dan bahkan anggota Generasi Alpha kini mulai menyadari bahaya kecanduan gawai. Studi Pew Research Center tahun 2024 menunjukkan bahwa hampir setengah remaja saat ini mengaku online hampir sepanjang waktu, naik signifikan dibanding 24 persen pada dekade sebelumnya.

Sebagian bahkan mengaku merasakan getaran palsu dari notifikasi ponsel, dan menekan tombol 'on' menjadi refleks yang sulit dihentikan.

Di sisi lain, perangkat lawas seperti Blackberry dan ponsel lipat dinilai bisa mendorong gaya hidup yang lebih sehat. Mereka merasa lebih banyak waktu bisa dihabiskan untuk hal produktif seperti berinteraksi langsung, mengeksplorasi hobi, hingga menemukan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Tantangan di Tengah Popularitas Kembali

Meski tren Blackberry kembali mencuat, tantangan teknis tetap mengintai. Per 4 Januari 2022, sistem operasi Blackberry secara resmi dihentikan. Ini berarti sejumlah layanan penting dari ponsel ini, termasuk sistem komunikasi utama, sudah tidak lagi berfungsi.

Blackberry sempat menjadi raksasa di masanya, namun gagal beradaptasi dengan cepatnya inovasi di sektor smartphone yang kini dikuasai iPhone dan Android.

Meskipun demikian, semangat komunitas pengguna dan nostalgia yang kuat bisa saja menjadi modal baru untuk masa depan perangkat legendaris ini — setidaknya sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi teknologi yang membuat penggunanya lelah.***

Topik terkait
generasi Z Blackberry petisi blackberry blackberry diminati GenZ