Geger Penemuan Tanah Beracun di Tangsel
Sebanyak 100 drum kosong disiapkan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) untuk mengangkut tanah yang terpapar radioaktif di Perumahan Batan Indah, Setu, Tangerang Selatan, Senin (17/2/2020). Di di laha...
Sebanyak 100 drum kosong disiapkan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) untuk mengangkut tanah yang terpapar radioaktif di Perumahan Batan Indah, Setu, Tangerang Selatan, Senin (17/2/2020).
Di di lahan kosong Blok J, para petugas Batan dengan menggunakan alat, mengeruk tanah itu yang kemudian dimasukkan ke dalam tong berwarna kuning.
Usai diisi tanah, drum-drum itu langsung diangkut ke dalam truk khusus, selanjutnya dibawa menuju tempat penyimpanan sementara limbah radioaktif di Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) Batan, Kawasan Puspiptek, Tangerang Selatan.
Pembersihan atau clean-up ini sudah dilakukan sejak 11 Februari 2020 lalu. Hal ini seiring yang diketahui sejak akhir Januari 2020.
Menurut Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Batan, Heru Umbara, sudah ada 87 drum tanah yang diangkut dari lokasi tersebut sejak akhir Januari hingga Minggu 16 Februari 2020.
"Saat ini kita bersihkan (radioaktif pada) tanah ataupun tanaman yang ada di tempat itu. Sekarang kita bawa 100 drum kosong. Semoga tidak hujan karena faktor alam sangat mempengaruhi dan jika dilakukan saat hujan dapat membahayakan pekerja," ujar Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Batan, Heru Umbara di lokasi, Senin (17/2/2020).
Proses pembersihan ini dilakukan setelah pihaknya berkoordinasi dengan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dan warga penghuni Komplek Perumahan Batan Indah. Pekerjaan itu akan terus diusahakan hingga selesai agar kondisinya menjadi normal kembali.
Heru mengaku sudah mengetahui sumber dari limbah radioaktif tersebut. Namun dia enggan menyebutkan lebih detail ke publik. "Penelitian untuk identifikasi, sebenarnya sudah ketahuan. Kita sudah ada, kita sudah tahu sumbernya," ucap dia.
Dia hanya menyebut limbah radioaktif ini bukan berasal dari fasilitas nuklir di kawasan Serpong. Heru mengatakan, petugas masih berkonsentrasi melakukan proses clean up atau pengangkutan sisa limbah radioaktif di perumahan Batan Indah.
"Kita punya reaktor, fasilitas nuklir lainnya. Nah itu diyakinkan bukan berasal dari pengoperasian atau reaktor, seperti itu," tuturnya.
Sementara, mantan Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto menduga, zat radioaktif yang ditemukan di Tangerang berasal dari limbah industri. Sebab ini mengacu dari jenis Cs-137 yang ada di lokasi.
"Caesium 137 (Cs-137) banyak digunakan di industri misalnya mengukur ketebalan kertas atau densitas suatu bahan dan lain lain, dan rumah sakit untuk terapi kanker. Dugaan saya kalau berbasis temuan yang ada, berasal dari industri," ujar dia kepada Liputan6.com, Senin (17/2/2020).
Dampak yang ditimbulkan akibat zat berbahaya ini, kata Djarot, harus dilihat seberapa jauh paparannya. Dia menjelaskan, satuan untuk mengukur dampak radiasi disebut Sieverts (Sv).
Dia memaparkan, orang yang terpapar 10 ribu mili Sv akan meninggal dalam beberapa minggu. Kalau seribu mili Sv berpotensi terkena kanker naik 5%. Dan jika skalanya puluhan mSv, biasanya dianggap dapat ditoleransi dan tak ada symptom terdeteksi.
"Saya ambil contoh di rumah sakit, bila menggunakan CT SCAN pasien mendapat 10 mSv, rontgen sekitar 0,1 mSv. Nah yang di Batam Indah tersebut kalau radiasinya sekitar beberapa mSv atau bahkan ukurannya mikro Sv, maka bisa dikatakan aman," jelas dia.
Untuk mengusut penemuan ini, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Raden Prabowo Argo Yuwono saat ditemui di Komnas HAM, Jakarta Pusat, mengungkapkan pihaknya masih menyelidiki penemuan ini. Dengan pihak terkait pun, juga masih terus dilakukan komunikasi.
"Kita berkomunikasi dengan Batan, sejauh mana daripada sisa limbah radioaktif tersebut," kata dia, Senin (17/2/2020).
"Ada kemarin labfor, gegana juga ya, tentang radioaktif juga ada, kemudian dari tipidter Mabes Polri. Tentunya kita nanti akan melakukan penyelidikan, sampai saat ini kita masih dalam tahap-tahap lidik, tahap komunikasi dengan Batan," ujar dia.
Lebih jauh Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra mengungkapkan alasan dilibatkannya gegana dalam pengungkapan kasus radioaktif ini. Menurut dia, tim ini juga memiliki keahlian dalam bidang tersebut.
"Pasukan dari Korps Brimob itu memiliki kemampuan kimia, biologi, dan radioaktif. Jadi dia sangat match dan kerja sama dengan Batannya ketemu. Karena ini yang diselidiki adalah radioaktif. Jadi Gegana punya alat untuk mendeteksi itu," ujar dia di Mabes Polri, Jakarta, Senin (17/2/2020).
Namun dalam fungsi pokoknya, Gegana juga melakukan upaya pencegahan seperti aksi teror yang menggunakan bahan-bahan seperti itu. Karena banyak aksi teror yang menggunakan bahan-bahan kimia, baik biologi atau pun radioaktif.
Asep menegaskan, sejauh ini tidak ada keterlibatan teroris terkait ditemukannya limbah radioaktif di Tangerang Selatan tersebut. "Tidak seperti itu ya," tegas dia.