HUT 25 Mega Bintang di Solo, Warga: Teriak Yel-Yel Revolusi Lawan Oligarki
Reportase, Penulis: Agusto / Foto: Ist Keterangan foto : Dialog Nasional "Lawan Oligarki" pada HUT 25 Mega Bintang di Solo, Minggu 5/6/2022. Jalurdua.com - Solo | HUT ke 25 Mega Bintang yang d...
Reportase, Penulis: Agusto / Foto: Ist
Keterangan foto : Dialog Nasional "Lawan Oligarki" pada HUT 25 Mega Bintang di Solo, Minggu 5/6/2022.
Solo | HUT ke 25 Mega Bintang yang diadakan di kota Solo, hari ini Selasa 5/6/2022 diperingati dengan menggelar acara dialog Nasional yang menyoroti situasi bangsa negara saat ini.
Tuan rumah acara, Mudrich Sangidu sebagai tokoh juga pendiri Mega Bintang yang merupakan wadah perkumpulan massa "wong cilik" mengundang para tokoh dan aktivis nasional yang konsisten menyoroti persoalan keadilan, demokrasi dan hal yang menyentuh keberpihakan kepada rakyat.
Sebelumnya dalam sambutannya Mudrich menyinggung soal keadaan bangsa dan negara yang semakin memburuk. Dengan tegas dirinya menghimbau untuk tidak takut melawan kezaliman yang sengsarakan bangsa dan negara.
Menurut salah satu warga yang berada yang hadir diluar arena acara, setuju dengan thema dialog "lawan oligarki" menurutnya, kenyataan yang ia rasakan hidup sehari-hari terasa semakin berat, pekerjaan sulit, aturan tumpang tindih, harga kebutuhan pokok semakin mahal.
Pendapat warga yang enggan disebut namanya itu senada dengan apa yang dipaparkan oleh para narasumber yang tampil, yakni Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti (Ketua DPD RI); Muh Jumhur Hidayat (Ketua KSPSI); Syahganda Nainggolan (Pemikir, Aktivis Gerakan); Rocky Gerung (Pengamat Politik) Dr. Ferry Julianto (Sekjend Syarikat Islam); Lieus Sungkharisma (Tokoh Keturunan Tionghoa); Syukri Fadholi (DIY); Kol. Purn. Sugeng Waras; H. Boyamin Syaiman, SH (Ketua Presidum KAMI).
Berikut paparan ringkasnya;
AA Lannyala Mataliti menyoroti soal UU terkait aturan syarat pemilihan presiden
(presiden threahold) 20%, bahwa menurutnya UU tidak mensyaratkan pemilihan Presiden - Wakil Presiden dengan PT 20%. Karenanya dirinya selaku Ketua DPD berkewajiban meluruskan persoalan ini.
Syahganda, bahwa praktek oligarki sudah terjadi di negara kita sejak lama saat itu dilakukan VOC yang masuk ke wilayah Indonesia/nusantara kemudian menghisap bangsa kita dan sumber alamnya. Akibat praktek itu rakyat dan pekerja buruh yang menjadi korbannya. Hal itu menurutnya praktek itu masih terjadi bahkan telah merambah kedalam wilayah ekonomi, partai politik, ini tugas berat kita untuk lepas dari penindasan itu menjadi kewajiban bersama. Syahganda mencontohkan beban ketua buruh KSPSI
yang sangat berat, sebab kesejahteraan buruh hari ini jauh dari harapan.
Muh Jumhur Hidayat, menyoroti soal ketidak adilan yang di alami oleh kaum pekerja buruh Indonesia saat ini. Bahwa dalam kenyataannya kesejahteraan buruh sejak jaman kolonial hingga sekarang belum terlihat perubahannya. Menurutnya sangat ironis membandingkan upah yang diterima buruh saat jaman penjajahan Belanda sebelum tahun 1945 dan sekarang tahun 2022 kesetaraan kesejahteraannya tidak terpaut jauh. Ini sangat menyedihkan dan tidak bisa dibiarkan, maka saatnya semua elemen bersatu bergerak melawan oligarki.
Ferry Juliantono menyerukan bahwa semangat perjuangan umat Islam yang dipelopori oleh Syarikat Islam saat itu harus kembali menjadi kekuatan rakyat bahwa Islam dan Nasionalis menjadi sebuah keniscayaaan untuk bersatu melawan oligarki. Oleh karenanya agar tujuan oligarki tercapai maka dibuatlah Islamophobia untuk memecah kekuatan Islam dan Nasionalis. Menurutnya ironis bawa kini rezim malah jadi Islamphobia dan membenturkan, dan mengadu domba rakyat.
Rocky Gerung menyinggung tegas soal politik yang untungkan Oligarki yakni dengan membuat syarat Capres dalam Pemilu dengan 20%. Karena syarat inilah calon pemimpin yang pro rakyat tak bisa muncul dan menjadi pemimpin. Karenanya menurutnya syarat PT 20% harus dihapus menjadi PT 0%. Jika tak bisa 0%, maka bentuk PPP (Partai People Power) dan LBP (Liga Boikot Pemilu).
Dari pantauan media nampak hadir
Bonyamin Saiman, Syukri Fadoli, Sugeng Waras, serta ratusan aktivis lintas poros dan angkatan antara lain
Lieus Sungkarisma, Andrianto, Wahyono, Hendry Harmen, Habil Maraty, Sutoyo Abadi, Fahmi, Harlan, Agusto, dan berbagai Organisasi Pemuda Solo.
Acara berjalan lancar, peserta yang hadir terlihat antusias dan semangat mengikuti jalannya diskusi hingga acara ditutup. Terdengar berulang kali yel-yel teriakan people power, revolusi dan lawan oligarki dari ratusan peserta diskusi didalam aula Mega Bintang saat para narasumber paparkan pandanganya.