Ini Dua Tokoh Dibalik Temuan Sejumlah Vaksin di Indonesia
, Jakarta: Saat memerangi penyebaran Covid-19, pemerintah Indonesia terus berupaya memproduksi vaksin secara mandiri. Namun, hal yang tidak boleh dikesampingkan adalah jasa para pahlawan...
Jakarta: Saat memerangi penyebaran Covid-19, pemerintah Indonesia terus berupaya memproduksi vaksin secara mandiri. Namun, hal yang tidak boleh dikesampingkan adalah jasa para pahlawan kesehatan di tengah kondisi pandemi, seperti tenaga kesehatan di garis depan maupun pihak-pihak yang bekerja di laboratorium.
Pada acara terkait peringatan Hari Pahlawan yang diselenggarakan Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), penyelenggara kegiatan Dialog Produktif bertajuk "Berjuang Tanpa Lelah Menyiapkan Vaksin" menghadirkan dua tokoh kesehatan.
Acara yang diskusi virtual melalui kanal YouTube FMB9 yang dikutip di Jakarta, Selasa (24/11) itu menghadirkan Prof Sri Rezeki Hadinegoro, Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dan Prof Kusnandi Rusmil, Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 dari Universitas Padjadjaran.
Sri Rezeki memiliki kisah panjang dalam memperjuangkan imunisasi di Indonesia. Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Indonesia ini mulai terdorong untuk memperjuangkan kesehatan anak Indonesia saat ditugaskan di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, selepas menyelesaikan pendidikan dokter pada 1972.
Bagi Sri Rezeki bidang ini adalah ilmu tersulit dalam kedokteran. Pasalnya, bayi dan anak-anak yang masih terkendala komunikasi, membuat dokter punya tantangan tersendiri dalam memberikan diagnosis. Pada periode tersebut, Sri Rezeki menyadari bahwa permasalahan kesehatan anak-anak Indonesia cukup besar.
Kesadaran ini semakin terpupuk setelah Sri Rezeki pindah tugas ke Jakarta dan merintis program karang balita yang kemudian bertransformasi menjadi Pos Pelayanan Keluarga Berencana - Kesehatan Terpadu (Posyandu).
Seiring berjalannya waktu, Sri Rezeki kemudian bertugas di RS Cipto Mangunkusumo dan semakin banyak bergelut dengan penyakit infeksi pada anak-anak. Gagasannya agar imunisasi perlu dilakukan lebih masif, membuatnya terus berjuang hingga menjadi Ketua Satgas Imunisasi dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan sampai saat ini menjadi Ketua ITAGI.
Bagi Sri Rezeki, imunisasi merupakan standar kesejahteraan sebuah negara. Cakupan imunisasi yang luas memberi gambaran tentang kemajuan ekonomi dan sosial suatu negara. "Jadi, kalau mau melihat standar sejahteranya negara itu adalah, termasuk imunisasi," katanya.
Dalam upaya pencegahan penyakit, Sri menyebutkan ada dua aspek dasar yang harus dipenuhi oleh negara yakni, air bersih yang merata dan imunisasi. Saat dua hal ini bisa disediakan oleh Negara dengan baik, maka sebesar 70 persen masalah kesehatan anak terkait infeksi penyakit bisa teratasi.
Sementara itu, tokoh kedua Kusnandi Rusmil juga merintis karir dari level Puskesmas. Dia menyelesaikan pendidikan dokter pada 1976 dan melanjutkan baktinya selama delapan tahun di Puskesmas, Lampung.
Setelah sempat berpindah tugas ke Sumatera Barat dan merampungkan pendidikan spesialis, Kusnandi kembali ke Unpad untuk menjadi tenaga pengajar pediatri sosial yang fokus pada imunisasi.
Kedekatan lokasi Unpad dan PT Bio Farma (Persero) juga membuat keilmuan Kusnandi banyak digunakan dalam persiapan produksi beragam vaksin, bahkan hampir semua vaksin yang dikembangkan Bio Farma melibatkan Kusnandi.
"Saya mendapat kepercayaan untuk melaksanakan hampir semua imunisasi. Jadi mulai dari imunisasi DPT, Hepatitis B, uji klinis fase I-II, kemudian Pentabio, kemudian bersama Prof. Sri saya meneliti vaksin Dengue, kemudian vaksin Pneumococcus," tutur Kusnandi.
Sampai kini, Kusnandi Rusmil telah melakukan 26 uji klinis vaksin, termasuk uji klinis fase ketiga vaksin Covid-19 di Indonesia. “Sudah 1.620 subjek penelitian yang telah selesai divaksinasi. Tinggal kita ikuti perkembangannya. Sebelum divaksinasi, mereka diambil darahnya, kemudian satu bulan, tiga bulan dan enam bulan setelah disuntik diambil darahnya lagi untuk dilakukan evaluasi keamanan vaksin, kadar zat antibodi dan efikasinya. Sejauh ini tidak ada efek samping yang berbahaya yang dialami relawan," paparnya. (Budi)