News and Education Versi penuh
Headline

Jokowi Makin nge-GasPol

Keterangan gambar: Andrianto saat hadiri undangan HUT 25 Mega Bintang di Solo, Jateng, 5/6/2022. Oleh : Andrianto - Ketua Gerpol (Gerakan Reformasi Politik) Indonesia. Jalurdua.com - Jakarta| G...

Oleh herwanto2582@gmail.com 13 Jun 2022 10:10 3 menit baca

Keterangan gambar: Andrianto saat hadiri undangan HUT 25 Mega Bintang di Solo, Jateng, 5/6/2022.

Oleh : Andrianto - Ketua Gerpol (Gerakan Reformasi Politik) Indonesia.

Jalurdua.com - Jakarta| Gelaran acara temu Relawan di jantung ibukota, Taman Impian Jaya Ancol seakan membuat publik menjadi skeptis oleh adanya pengarahan massa. Sebelumnya acara serupa yang merupakan "test in the water" digelar ProJo di Magelang, Jawa Tengah.

Selain itu acara itu pun mirip bisa dibilang mirip dengan agenda acara APDESI beberapa waktu lalu, bahkan aura panggungnya terasa seperti kebulatan tekad.

Bisa jadi gelaran itu sebagai uji animo publik, stake holder Partai Politik Pendukung terutama PDI-P. Nyatanya publik sudah maklum bahwa Jokowi memang sudah tidak peduli lagi dengan kenaikan barang yang meroket tinggi sejak lebaran lalu.

Melambungnya harga telur, cabai, minyak goreng hingga kini belum kunjung terjangkau oleh rakyat. Rakyat terjepit dan tercekik, walau realitanya rakyat sejauh ini tidak ber-reaksi seperti di Sri Langka.

Oleh sebab itu Jokowi makin GASPOL, ia terus bermanuver untuk presure kandang banteng yang masih enggan beri tiket Capres ke Ganjar Pranowo.

Seiring berkejarannya waktu, pihak Oligarli enggan beri anggaran untuk memberi tiket ke Ganjar yang belum juga belum jelas.

Oligarki tidak mau kecolongan lagi ketika Pilpres lalu PDIP last minute mendukung KH. Maruf Amin, yang merupakan figur antagonis buat pihak Oligarki.

Ada 2 siasat Jokowi

1.Terus lakukan penggalangan masa untuk pengkondisian Capres. Publik di beri voeding pencapresan supaya PDI-P segera tentukan sikap terkait Capres.

  1. Menciptakan sekoci Partai jika PDIP benar-benar tidak beri tiket ke Ganjar.

Buat Jokowi tiket Ganjar ini penting untuk segera dipastikan agar bisa menentukan langkah strategis selanjutnya. Namun tetap utamanya dari PDIP sebagai the rulling party karena succes story pilpres lalu yang kotor (pilpres yg curang dan menghalalkan segala cara), guna terbentuk legitimasi publik nanti.

Lantas bagaimana dengan PDIP yang sedari awal telah melarang para kadernya bicara Capres?

Persoalannya Jokowi bukanlah kader atau bahasanya Petugas partai?

Terbukti diputaran kabinet jilid ke 2 ini semua urusan dipegang duet Luhut dan Erik Thohir, sementara kader PDI-P tidak diberi tempat yang layak dan strategis, ironisnya tak satupun Menko dan Depatemen yang strategis dipegang kader PDI-P.

Jokowi nampaknya mengeliminir kader PDI-P sehingga sentral kekuasaan ttunggal ada di tanggannya.

Sepertinya dengan berbagai suasana ini Jokowi merasa lebih hebat, apalagi dirinya terpilih 2 kali dalam Pilpres, sedangkan Mega pernah alami kegagalan 2 kali.

Jokowi mesti pastikan kekuasan tunggal di tangannya agar upaya mengamankan proyek seperti IKN, Kereta Cepat Jkt-Bandung, dll terwujud, guna kelanggengan dinastinya.

Pelajaran terhambatnya rekomendasi sang Anak dalam Pilwalkot jadi pembelajaran buat karir sang Anak kelak biar mulus.

Lantas bagaimana dengan statmennya bahwa dalam satu keluarga bisa saja berbuat nakal?

Ada bisik-bisik gegara ketahuan meloby Mantan Presiden yang juga pemilik Partai agar mendukung Ganjar-Erik, dan Mantan Presiden itupun lantas sowan ke Petinggi Partai yang selama ini publik melihat tidak miliki hub yang baik.

Makanya kedatangannya pada peresmian Masjid At Taufik, bisa disinyalir sebagai sinyal mengklarafikasi sambil
declare memberi warning bila keinginannya kelak tidak di penuhi, maka
Akan berwujud menjadi pembangkangan.

Dengan dukungan Oligarki yang memang sebal sama sang induk semang, dengan kekuatan uang yang dimiliki nampaknya tinggal nunggu waktu saja, bahwa si Anak nakal menjelma menjadi Malin Kundang.