News and Education Versi penuh
News

Secangkir Kopi Perpisahan di Bundaran Pinisi – Iptu Muhammad Ali & AKP Ahmad Rizal Pamit dari Bulukumba

JALUR DUA - Di bawah cahaya matahari siang yang hangat pada Senin, 30 Maret 2026, aroma kopi hitam pekat mengepul lembut dari Warkop Titik Nol, tepat di sisi Bundaran Pinisi—ikon kota Bulukumba. Buka...

Oleh uno 30 Mar 2026 05:37 4 menit baca

JALUR DUA - Di bawah cahaya matahari siang yang hangat pada Senin, 30 Maret 2026, aroma kopi hitam pekat mengepul lembut dari Warkop Titik Nol, tepat di sisi Bundaran Pinisi—ikon kota Bulukumba. Bukan hiruk-pikuk lalu lintas atau obrolan biasa, melainkan keheningan penuh makna. Meja kayu sederhana menjadi saksi bisu sebuah silaturahmi yang menyentuh hati: perpisahan dua pejabat Polres Bulukumba yang selama ini dikenal tegas di lapangan, kini menunjukkan sisi paling manusiawi mereka di hadapan para jurnalis.

Tak ada podium megah, tak ada sambutan panjang lebar. Hanya secangkir kopi, tatapan mata yang saling mengerti, dan kata-kata yang mengalir dari hati. Di tempat yang menjadi simbol “titik nol” perjalanan masyarakat Bulukumba, dua sosok penting itu—Iptu Muhammad Ali sebagai Kasat Reskrim dan AKP Ahmad Rizal sebagai Kasat Resnarkoba—melepas masa tugas mereka dengan penuh kerendahan hati. Momen ini, didukung oleh Titik Kota dan Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia, bukan sekadar acara perpisahan. Ini adalah bukti nyata sinergi antara Polri, media, dan masyarakat di Bumi Panritalopi.

Di tengah suasana santai yang jauh dari formalitas kepolisian, para jurnalis yang selama ini menjadi mitra kerja mereka duduk mengelilingi meja. Senyum hangat terukir di wajah dua perwira yang biasanya berhadapan dengan kasus berat, namun kini terlihat rapuh oleh rasa haru. Mereka bukan hanya aparat penegak hukum; mereka adalah manusia yang memahami arti sebuah hubungan kerja yang dibangun atas kepercayaan.

Dengan suara tenang, Iptu Muhammad Ali membuka hatinya: “Tak terasa waktu saya bertugas di sini telah usai. Saya ingin mengucapkan terima kasih atas dukungan teman-teman dalam mengawal pemberitaan kasus-kasus di Satreskrim. Secara pribadi, saya mohon maaf jika selama berinteraksi ada tutur kata yang kurang berkenan, atau jika ada telepon dan pesan yang tidak sempat terangkat saat saya sedang di lapangan. Semoga silaturahmi kita tetap terjaga meskipun saya sudah berpindah tugas.”

Ucapan itu menggantung di udara, menyentuh setiap insan pers yang hadir. Selama bertugas di Satreskrim Polres Bulukumba, Iptu Muhammad Ali dikenal sebagai sosok yang responsif meski sedang berada di lapangan paling sulit. Ia selalu berusaha menjembatani informasi publik tanpa mengorbankan proses hukum. Bagi jurnalis lokal, ia bukan sekadar narasumber, melainkan mitra yang memahami tekanan deadline dan kebutuhan masyarakat akan berita yang akurat.

AKP Ahmad Rizal ikut menyampaikan pesan yang sama menyentuhnya: “Sehubungan dengan berakhirnya masa tugas saya sebagai Kasat Resnarkoba di Polres Bulukumba, saya ingin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dukungan dan kerja sama rekan-rekan selama ini dalam mengedukasi masyarakat terkait pemberantasan penyalahgunaan narkoba. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila selama berinteraksi terdapat kekhilafan… Semoga sinergitas antara Polri dan media tetap terjaga demi menciptakan lingkungan yang bersih dari narkoba.”

Kedua pernyataan itu bukan formalitas kosong. Mereka mencerminkan realitas tugas berat di wilayah yang rawan, di mana penanganan kasus kriminal dan narkoba sering kali membutuhkan dukungan penuh dari media untuk menyampaikan edukasi kepada masyarakat. Di Bulukumba, di mana isu narkoba masih menjadi perhatian serius, peran media sebagai penyampai informasi yang bertanggung jawab menjadi sangat krusial.

Di Warkop Titik Nol bukan sekadar cerita perpisahan dua pejabat. Ini adalah narasi tentang kepercayaan yang dibangun perlahan, kerja sama yang telah teruji di lapangan, dan kemanusiaan yang sering tersembunyi di balik prosedur kepolisian. Iptu Muhammad Ali dan AKP Ahmad Rizal menunjukkan bahwa seorang polisi boleh tegas dalam menegakkan hukum, namun tetap rendah hati saat berhadapan dengan mitra kerjanya.

Di era di mana masyarakat semakin kritis terhadap institusi penegak hukum, momen seperti ini menjadi jawaban langsung atas pertanyaan banyak orang: “Bagaimana sebenarnya hubungan Polri dengan media lokal?” Jawabannya sederhana—dibangun melalui kopi pagi, permohonan maaf yang tulus, dan komitmen untuk terus menjaga silaturahmi meski tugas telah berpindah.

Bagi Bulukumba sendiri, yang sedang giat mengembangkan pariwisata Pinisi dan menjaga kamtibmas pasca-Lebaran, sinergi ini sangat strategis. Media membantu menyampaikan program pemberantasan narkoba, sementara Polres memberikan akses informasi yang transparan. Hasilnya? Masyarakat lebih teredukasi, kepercayaan publik meningkat, dan lingkungan semakin kondusif.

Dari secangkir kopi di Titik Nol Bundaran Pinisi, lahir pesan yang jauh lebih besar: sinergi adalah kunci untuk masa depan yang lebih baik. Meski Iptu Muhammad Ali dan AKP Ahmad Rizal kini melanjutkan pengabdian di Polda Sulawesi Selatan, ikatan yang mereka bangun di Bulukumba akan terus terjaga. Karena di balik setiap mutasi tugas, ada cerita manusiawi yang mengingatkan kita semua—polisi, jurnalis, dan masyarakat—bahwa kita berada di pihak yang sama.**

Topik terkait
Iptu Muhammad Ali warkop titik nol bundaran pinisi bulukumba kasat resnarkoba bulukumba silaturahmi polres bulukumba kasat reskrim bulukumba akp ahmad rizal