Warisan Tanpa Kata Maestro Pantomim Indonesia, Sena A. Utoyo Terus Dihidupkan
Foto: Ayu Basir Nurdin dan para pendukung acara, anak yatim piatu di acara peringatan Merindu Sena A Utoyo. Foto/Ist. Dalam kesunyian, tubuh bicara. Dalam diam, pesan-pesan terdalam manusia bisa d...
Foto: Ayu Basir Nurdin dan para pendukung acara, anak yatim piatu di acara peringatan Merindu Sena A Utoyo. Foto/Ist.
Dalam kesunyian, tubuh bicara. Dalam diam, pesan-pesan terdalam manusia bisa disampaikan. Itulah seni pantomim, dan itulah warisan yang ditinggalkan oleh almarhum Sena A. Utoyo, Maestro Pantomim Indonesia yang dikenal tak hanya lewat ekspresi tubuhnya yang kuat, tapi juga lewat dedikasinya terhadap dunia seni pertunjukan yang jujur, bersahaja, dan menyentuh nurani.
Tiga hari penuh, sejak Senin hingga Rabu, 7–9 Juli 2025, para seniman dan alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mengenang sang maestro lewat rangkaian kegiatan bertajuk Merindu Sena A. Utoyo. Tidak hanya sebagai penghormatan, acara ini juga menjadi langkah awal untuk mewujudkan impian Sena: mendirikan sekolah pantomim Indonesia.
Peringatan ini dibuka dengan ziarah ke makam Sena di TPU Jeruk Purut, Blok AA2 Blad 34, sebuah momen hening yang penuh makna. Dilanjutkan dengan pameran foto dokumentasi, mural, doa bersama anak-anak yatim, hingga malam apresiasi yang sarat emosi. Kegiatan dilanjutkan pada 8 dan 9 Juli di Jatha Coffee & Roastery, Pondok Aren, Tangerang Selatan, melalui sesi belajar melukis, workshop pantomim, serta pementasan hasil pelatihan.
Menurut Isdaryanto, Ketua Panitia sekaligus sahabat almarhum, kegiatan ini adalah bentuk nyata untuk meneruskan semangat dan gagasan besar Sena A. Utoyo, terutama keinginannya membangun pendidikan pantomim yang lebih sistematis dan terbuka bagi publik. "Ini adalah titik awal kita untuk melakukan apa yang menjadi cita-cita dan impian beliau," ungkapnya saat ditemui di lokasi acara.
Tak sekadar nostalgia, kegiatan ini juga menyuarakan harapan yang lebih besar: pendirian Rumah Pantomim Indonesia, sebagai pusat pendidikan, pelestarian, dan pengembangan seni pantomim yang selama ini terpinggirkan. Yayasan Citra Samara Mulia, yang dipimpin oleh Ayu Basir Nurdin, SH, MH, MKN, kini sedang merintis langkah awal pembukaannya.
"Hari ini kami berkumpul bukan hanya karena rindu, tapi juga cinta kasih, kejujuran dan ketulusan. Pantomim adalah seni yang menggugah kepekaan batin. Melalui gerakan diam, kita bisa menyampaikan nilai-nilai kehidupan," ujar Ayu.
Ia menegaskan, sekolah pantomim ini nantinya akan menjadi ruang belajar kreatif untuk anak muda, mengenalkan seni tanpa suara namun penuh makna, serta sebagai bentuk penghormatan terhadap dedikasi almarhum. Dengan pendekatan partisipatif, masyarakat diajak untuk memahami bahwa pantomim bukan sekadar hiburan, tapi juga medium pendidikan dan refleksi sosial.
Acara ini bukan hanya milik para seniman, tetapi juga sebuah panggilan bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih memperhatikan dunia seni yang selama ini kurang mendapatkan ruang. Dengan semangat kolaboratif dari alumni IKJ dan berbagai pihak, jejak langkah Sena A. Utoyo di panggung kehidupan akan terus ditapaki oleh generasi penerus.
Dalam diam, pantomim berbicara. Dalam kenangan, sosok Sena A. Utoyo kembali hidup mengajarkan bahwa kadang, pesan paling kuat justru lahir dari hening yang menyentuh. (LLy)