Bank Indonesia Kunjungi Pembatik Desa Topanda, Batik Bulukumba Siap Tembus Pasar Luas
JALUR DUA.COM, BULUKUMBA. - Sejak pagi, rumah produksi sederhana di Desa Topanda, Kecamatan Rilau Ale, tampak lebih hidup dari biasanya. Kain-kain batik tergantung rapi, aroma lilin hangat memenuhi r...
JALUR DUA.COM, BULUKUMBA. - Sejak pagi, rumah produksi sederhana di Desa Topanda, Kecamatan Rilau Ale, tampak lebih hidup dari biasanya. Kain-kain batik tergantung rapi, aroma lilin hangat memenuhi ruangan, dan senyum para perempuan pembatik merekah—seolah menandai hari penting yang tak akan mudah mereka lupakan.
Di tengah kesibukan itu, Andi Mawar berdiri tenang, meski sorot matanya menyimpan harap. Bersama Kelompok Pembatik Bunga Mawar, ia menyambut kunjungan istimewa: pejabat Bank Indonesia. Sebuah momen yang menjadi pengakuan atas usaha yang baru seumur jagung, namun tumbuh dengan keyakinan besar.
“Produksi batik ini baru berjalan sekitar satu bulan,” ujar Andi Mawar sambil merapikan kain bermotif Pinisi, Kamis, 15 Januari 2026.
Belajar dari Nol, Bertumbuh dengan Semangat
Cikal bakal lahirnya Batik Bunga Mawar berawal pada Desember 2024, saat Dekranasda Bulukumba di bawah kepemimpinan Andi Herfida Muchtar menghadirkan pembatik profesional dari Yogyakarta. Dari pelatihan itulah Andi Mawar dan rekan-rekannya mengenal dunia batik dari dasar—mulai dari kain, lilin, canting, hingga teknik cetak motif.
Tak ada jalan pintas. Semua dikerjakan dengan tangan dan kesabaran.
Kini, hasilnya mulai terlihat. Puluhan kain batik telah dihasilkan—mulai dari sarung, kain panjang, hingga bahan kemeja. Motifnya mengakar kuat pada identitas lokal: perahu Pinisi, kearifan adat Kajang, tarian tradisional, hingga tagline “We Love Bulukumba” yang menjadi simbol kebanggaan.
Meski bahan baku masih didatangkan dari Yogyakarta, ruh batiknya sepenuhnya lahir dari Bulukumba—dari tangan-tangan perempuan desa yang menjahit mimpi mereka sendiri.
Satu lembar kain ukuran dua kali satu meter membutuhkan waktu dua hari penuh,” jelas Andi Mawar.
30 Perempuan, Satu Asa: Batik sebagai Masa Depan
Saat ini, sekitar 30 ibu-ibu produktif dari berbagai desa di Kecamatan Rilau Ale tergabung dalam Kelompok Membatik Bunga Mawar. Mereka tak sekadar ingin bertahan, tapi tumbuh—menjadikan batik sebagai sumber penghasilan berkelanjutan sekaligus identitas ekonomi kreatif Bulukumba.
Semangat itulah yang disaksikan langsung oleh rombongan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, dipimpin Kepala Grup BI Sulsel, Wahyu Purnama A. Dalam kunjungan singkat—kurang dari satu jam—BI melihat langsung seluruh proses produksi: dari pemanasan lilin, pencetakan motif, hingga kain yang siap dipasarkan.
Bank Indonesia Dorong Diversifikasi dan Ekspansi Pasar
Dalam dialog hangat bersama para pembatik, Wahyu Purnama memberikan dorongan strategis agar batik Bulukumba terus berkembang.
Ke depan, coraknya perlu lebih beragam. Jika produksinya meningkat, pemasarannya tidak hanya di Bulukumba, tetapi bisa menembus luar daerah,” ujarnya.
Kunjungan tersebut turut didampingi Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Bulukumba, Kepala Cabang Bank Sulselbar, perwakilan Dekranasda, serta TP-PKK Bulukumba—menandakan sinergi lintas lembaga dalam penguatan UMKM lokal.
Pengakuan dan Peluang UMKM Desa
Kepala Disdagrin Bulukumba, Alfian Mallihungan, menegaskan bahwa kehadiran Bank Indonesia bertujuan melihat langsung potensi pengembangan UMKM berbasis kearifan lokal.
“Harapan kami, ke depan terjalin kerja sama konkret agar batik Bulukumba semakin dikenal dan berdaya saing,” katanya.
Bagi Andi Mawar dan kelompoknya, kunjungan ini lebih dari sekadar seremoni. Ia adalah validasi, motivasi, dan pintu peluang bagi pembatik desa yang sebelumnya dikenal sebagai produsen kain dan sarung pantai.
Dari Topanda, Batik Bulukumba Menenun Masa Depan
Di sudut Desa Topanda, setiap goresan canting kini bukan hanya motif—melainkan cerita tentang ketekunan, pemberdayaan perempuan, dan ekonomi kreatif desa. Dari kain-kain batik itu, Andi Mawar dan para ibu pembatik sedang menenun masa depan Bulukumba, helai demi helai.(*)