News and Education Versi penuh
Headline

BNPT Ingatkan: Dunia Digital Bisa Jadi Ladang Subur Radikalisme

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan pentingnya menjaga ruang digital agar tidak menjadi sarang penyebaran paham radikal dan terorisme. Transformasi digital yang berkem...

Oleh herwanto2582@gmail.com 23 Sep 2025 04:09 2 menit baca

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan pentingnya menjaga ruang digital agar tidak menjadi sarang penyebaran paham radikal dan terorisme. Transformasi digital yang berkembang pesat memang membawa banyak manfaat, namun juga menyimpan potensi ancaman serius jika tidak dikelola dengan bijak.

Kepala BNPT, Eddy Hartono, S.I.K., M.H., menjelaskan bahwa dunia siber kini ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia membuka peluang besar bagi literasi, komunikasi, dan interaksi sosial. Namun di sisi lain, ruang ini juga sering disalahgunakan oleh kelompok radikal untuk menyebarkan ideologi kekerasan, propaganda, hingga perekrutan anggota.

“Kita ketahui bersama bahwa ruang digital bisa menjadi sarana yang positif, tapi juga bisa berubah menjadi sarana yang negatif. Karena itu, ruang siber harus kita jadikan tempat pembinaan dan pencegahan, bukan lahan subur radikalisme,” kata Eddy saat berkunjung ke kantor berita ANTARA, Senin (22/9/2025).

Sebagai langkah konkret, BNPT membentuk Satgas Kontra yang bertugas memetakan platform dan konten berisiko, sekaligus mengembangkan narasi tandingan agar masyarakat, terutama generasi muda, tidak mudah terpengaruh.

“Harapan kami semua elemen masyarakat ikut berpartisipasi aktif menjaga ruang digital, sehingga tetap sehat dan produktif,” ujarnya.

Eddy menambahkan, penguatan kontra radikalisasi juga masuk dalam agenda prioritas nasional sebagaimana tertuang dalam RPJMN. Program ini mencakup kontra ideologi, kontra narasi, hingga kontra propaganda, yang dilakukan baik di ruang digital maupun konvensional.

Senada dengan BNPT, Direktur Pemberitaan ANTARA, Irfan Junaidi, menilai tantangan di ruang digital bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tugas bersama antara media, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.

“Media sosial ini seperti dua sisi mata pedang. Satu sisi bisa memberi manfaat besar, mempercepat arus informasi. Tapi di sisi lain bisa juga disalahgunakan untuk propaganda dan perekrutan oleh kelompok radikal,” ujar Irfan.

Menurutnya, media massa relatif lebih terlindungi karena memiliki mekanisme editorial yang ketat, berbeda dengan media sosial yang lebih bebas dan rawan disalahgunakan.

“Kalau di media massa ada filter sebelum berita disiarkan, sementara di media sosial semuanya sangat terbuka. Nah, inilah pekerjaan rumah yang harus kita kerjakan bersama,” tegasnya.

BNPT dan ANTARA sama-sama menekankan bahwa menjaga ruang digital bukan sekadar soal keamanan, tetapi juga soal masa depan bangsa. Literasi digital yang kuat, kolaborasi antar-lembaga, serta kesadaran masyarakat menjadi kunci agar dunia siber tetap bermanfaat, bukan berbahaya.

Editor: Agusto Sulistio