News and Education Versi penuh
Edukasi

Buku "Keserakahan di Tengah Pandemi", Karya Gde Siriana, Dapat Perhatian Banyak Kalangan

Foto : Ist Jalurdua.com - Jakarta | Acara bedah buku berjudul "Keserakahan di tengah pandemi", Jumat (18/3/2022) di sekretariat Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), kawasan Menteng, Jakart...

Oleh herwanto2582@gmail.com 19 Mar 2022 13:02 3 menit baca

Foto : Ist

Jalurdua.com - Jakarta | Acara bedah buku berjudul "Keserakahan di tengah pandemi", Jumat (18/3/2022) di sekretariat Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), kawasan Menteng, Jakarta Pusat kemarin sore berjalan semarak.

Mayoritas peserta yang hadir di acara sore kemarin dari perwakilan berbagai komunitas Emak-Emak, antara lain ASPIRASI (Wati Imhar), Emak Rempong (Poppy), PPN (Inge Mangundap), WAJAN (Tetet Soto), Maharani Peduli (Evie Kartasasmita), dll.

Bedah Buku karya Gde Siriana Yusuf, dikemas dalam suatu diskusi yang dipandu oleh mantan artis penyanyi, multi talenta era tahun 90-an, yang kini aktif di berbagai organisasi peremuan Islam, Hj. Neno Warisman, serta narasumber penanggap, Sita Baharuddin Lopa, Nuning Hallett, Ahmad Zaki dan Zulfi Ariefandi, SH.

Sebelum acara, mantar.Jubir Kenegaraan era Presiden KH. Abdurahman Wahid, Adhi M Massardi memberikan kata sambutannya, yang kemudian disambung oleh Gde Siriana Yusuf selaku penulis buku.

Gde menyampaikan bahwa buku yang ia tulis merupakan kajian kritis (bukan kumpulan tulisan) terkait perjalanan pemerintah dan upaya berbagai kelompok dalam sejumlah aktifitasnya guna mencari keuntungan disituasi pandemi khususnya, yang semua sangat berdampak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya emak-emak yang hadir dalam acara kemarin.

Buku : Keserakahan di Tengah Pandemi (Foto/Agt).

"Buku ini merupakan cara saya membagi rasa duka dan keprihatinan mendalam terhadap warga Indonesia yang selama pandemi ini menjadi korban pada kesehatannya, kehidupan ekonominya, kehilangan nyawa," tegasnya.

Selain itu, masih kata Gde, buku tersebut juga merekam semua perjuangan yang telah dilakukan para pejuang demokrasi dalam melawan kepemimpinan otoriter dan keserakahan oligarki yang memanfaatkan krisis pandemi.

Ia tambahkan bahwa buku yang ia tulis merupakan gambaran fakta, betapa oligarki dan kelompok lainnya yang didukung oleh sejumlah oknum berupaya dan bekerjasama dalam mencari keuntungan ditengah keadaan pandemi, tak perduli bangsa dan negara dalam keadaan sulit sekalipun.

Nampak terlihat air mata menetes dari puluhan emak-emak saat mendengarkan sambutan penulis terkait kisah dan suasana bathin terkait pengalaman suka dan duka penulis hingga terbitnya buku ini.

"Saya terharu dan nggak terasa keluar air mata saat Mas Gde Siriana ceritakan perasaan bathinnya tentang dibalik proses pembuatan bukunya saat proses pembuatan bukunya," terang salah satu Emak-emak yang hadir dan tak mau disebutkan namanya.

Usai acara disela-sela obrolan,
Direktur Indonesia Future Studies (Infus), Gde Siriana.mengungkapkan, ada tiga hal yang menjadi fokus dan kegelisahan yang dijabarkan dalam bukunya tersebut.

Pertama, kepemimpinan populistis yang otoriter. Kedua, kapasitas kesehatan yang tidak memadai dan tidak dipersiapkan. Ketiga, oligarki justru mencari untung di tengah derita orang banyak.

"Jadi ketiga faktor inilah yang menjadi kesimpulan di buku saya," tuturnya.

Menurut Gde, kerusakan negara akan semakin parah ketika oligarki sudah betul-betul mencengkram ring satu negara. Sehingga, ketika sekeliling presiden otoriter, maka presiden pun menjadi otoriter. Ketika sekelilingnya islamophobia, presidennya ikut islamophobia.

"Bagaimanapun juga perjuangan ini telah menggerakkan kesadaran banyak orang, bahwa hari ini bukan lagi saatnya pasrah dan berdiam diri pada keadaan, tetapi harus bergerak melawan cengkraman oligarki untuk menyelamatkan negeri ini," pungkasnya.

Sebelumnya, jelang awal Januari 2022, acara serupa pernah digelar, saat itu hadir sebagai narasumber dari tokoh nasional, antara lain mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo; ekonom senior Dr Rizal Ramli; pakar hukum tata negara Refly Harun; pengamat politik Rocky Gerung; dosen FISIP UMJ Prof Siti Zuhro, dan anggota DPD RI Tamsil Linrung.