Cahaya Qurban di Hati Mahendra

Di setiap sudut masjid dan halaman rumah, gema takbir berkumandang. Udara pagi Idul Adha terasa berbeda, penuh harapan dan keikhlasan. Sungguh hari yang dinanti-nanti oleh Mahendra, seorang pria sede...

Cahaya Qurban di Hati Mahendra
Bacakan Artikel

Dengan mata berbinar, Mahendra mengangguk. "Dengan senang hati, Pak. Saya akan lakukan dengan sepenuh jiwa."

Sepanjang hari, Mahendra berjalan dari rumah ke rumah, membawa potongan-potongan daging qurban. Setiap langkahnya adalah doa, setiap senyum yang ia berikan adalah keikhlasan yang tulus. Ia melihat senyum kebahagiaan dari mereka yang menerima, anak-anak yang berlari girang, dan para orang tua yang bersyukur.

Di balik peluh yang mengalir, hati Mahendra terasa hangat. Ia sadar bahwa meskipun ia tak bisa berqurban dengan kambing, ia telah berqurban dengan tenaga dan keikhlasan hatinya. Dan mungkin, itulah yang paling berharga di mata Sang Pencipta.

Ketika matahari mulai terbenam, Mahendra kembali ke masjid. Ia duduk di sudut halaman, merenungi hari yang telah berlalu. Seorang sahabatnya mendekat dan duduk di sampingnya.

“Mahendra, kenapa kau begitu giat membantu? Aku tahu kau sendiri sebenarnya ingin berqurban,” ujar sahabatnya, penuh simpati.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: