Cahaya Qurban di Hati Mahendra

Di setiap sudut masjid dan halaman rumah, gema takbir berkumandang. Udara pagi Idul Adha terasa berbeda, penuh harapan dan keikhlasan. Sungguh hari yang dinanti-nanti oleh Mahendra, seorang pria sede...

Cahaya Qurban di Hati Mahendra
Bacakan Artikel

Mahendra tersenyum, menatap langit yang mulai berwarna jingga. “Aku memang ingin berqurban, tapi bukan hanya untuk diriku sendiri. Aku bercita-cita ingin membeli hewan qurban untuk almarhum kedua orang tuaku yang telah wafat. Mereka selalu mengajarkanku tentang pentingnya berqurban dan berbagi, tapi mereka tak pernah sempat melakukannya sendiri. Aku ingin melanjutkan cita-cita mereka.”

Sahabatnya terdiam, terharu mendengar niat tulus Mahendra. “Suatu hari nanti, kau pasti bisa mewujudkannya,” kata sahabatnya, penuh keyakinan.

Malam itu, Mahendra pulang dengan rasa damai. Ia tidak membawa pulang kambing atau daging, tetapi ia membawa pulang kebahagiaan yang mendalam. Ia tahu, di hadapan Allah, semua pengorbanan diterima, selama dilakukan dengan ikhlas dan penuh cinta. Dengan hati yang tenang, Mahendra berdoa, berharap suatu hari nanti ia akan mampu membeli hewan qurban untuk almarhum kedua orang tuanya. Hingga saat itu tiba, ia akan terus berkorban dengan cara yang ia bisa, memberikan dirinya untuk orang lain, karena sejatinya, itu adalah makna terdalam dari Idul Adha.

Agusto Sulistio

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: