News and Education Versi penuh
Daerah

Hukum Sumpah atas Nama Al-Qur’an dalam Islam: Sah atau Tidak?

JALURDUA.COM – Dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam situasi genting atau pembelaan diri, banyak orang mengucapkan sumpah demi meyakinkan orang lain. Sumpah digunakan sebagai bentuk penguat...

Oleh Rahmat 07 Aug 2025 00:00 3 menit baca


JALURDUA.COM – Dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam situasi genting atau pembelaan diri, banyak orang mengucapkan sumpah demi meyakinkan orang lain.

Sumpah digunakan sebagai bentuk penguat, seolah menjadi jaminan bahwa apa yang diucapkannya adalah benar dan bukan kebohongan.

Dalam Islam, sumpah tidak bisa diucapkan secara sembarangan. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar sumpah tersebut dianggap sah secara syar’i.

Syarat Sahnya Sumpah Menurut Islam

Imam Muhammad bin Qasim dalam Fathul Qorib menjelaskan syarat sahnya sumpah sebagai berikut:

(لا ينعقد اليمين إلا بالله تعالى) أي بذاته، كقول الحالف: «وَاللهِ»، (أو باسم من أسمائه) المختصة به التي لا تستعمل في غيره كخالق الخلق، (أو صفة من صفات ذاته) القائمة به كعلمه وقدرته.

Artinya: “Sumpah dihukumi sah apabila menyebut Dzat Allah Ta’ala, seperti ucapan seseorang, ‘Demi Allah’, atau menyebut nama-nama khusus yang hanya digunakan bagi Allah dan tidak untuk selain-Nya, seperti ‘Demi Dzat yang menciptakan makhluk’, atau menyebut sifat-sifat khusus yang melekat pada Dzat Allah, seperti ‘Demi ilmu Allah’ atau ‘Demi qudrah-Nya’. Adapun yang dianggap bersumpah adalah setiap orang yang mukallaf (baligh dan berakal), tidak dalam paksaan, mampu berbicara, dan memiliki niat untuk bersumpah.” (Fathul Qorib Almujib, Jilid I, hlm. 319)

Apakah Sumpah atas Nama Al-Qur’an Sah?

Dalam praktik masyarakat Indonesia, tak jarang kita mendengar seseorang bersumpah atas nama Al-Qur’an. Misalnya:

“Demi Al-Qur’an, saya tidak melakukan itu.”

“Saya bersumpah atas nama Al-Qur’an untuk menjalankan tugas saya.”

Namun, muncul pertanyaan penting: Apakah sumpah dengan menyebut Al-Qur’an dianggap sah secara syar’i? Dan apakah itu termasuk kategori sumpah yang membawa konsekuensi hukum?

Pendapat Ulama Mengenai Sumpah dengan Al-Qur’an

Syekh Abdurrahman Al-Jaziri dalam kitab Al-Fiqhu ‘Alal Madzahibil Arba’ah menjelaskan:

وينعقد الحلف بكلام الله لأنه صفة من صفاته تعالى: وينعقد بالمصحف بدون كراهة لأن الحالف إنما يقصد الحلف بالمكتوب فيه وهو القرآن. وكذلك الخلف بالقرآن أو بسورة منه أو بآية أو بحق القرآن فإنه ينعقد يمينًا.

Artinya: “Sumpah menjadi sah dengan menyebut Kalam Allah, karena ia adalah salah satu sifat Allah Ta‘ala. Sumpah juga sah apabila dilakukan dengan menyebut mushaf (Al-Qur’an) tanpa makruh, sebab yang dimaksud oleh orang yang bersumpah dengan mushaf adalah isi yang terkandung di dalamnya, yaitu firman Allah. Begitu pula jika bersumpah dengan menyebut Al-Qur’an, salah satu surah, ayat, atau dengan ungkapan ‘demi hak Al-Qur’an’, maka semuanya dihukumi sebagai sumpah yang sah.”
(Al-Fiqhu ‘Alal Madzahibil Arba’ah, Jilid II, hlm. 70-71)

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa sumpah dengan menyebut Al-Qur’an tetap dihukumi sah asalkan niatnya tertuju pada kalam Allah sebagai firman dan sifat-Nya. Jika yang dimaksud hanya mushaf secara fisik, maka sumpah itu bisa tidak sah.

Kapan Sumpah Al-Qur’an Tidak Dianggap Sah?

Penjelasan lebih rinci datang dari Asy-Syekh Ibrahim al-Baijuri dalam Hasyiyatul Baijuri:

وقوله وكتاب الله والقرآن والمصحف يمين مالم يرد بكتاب الله المكتوب من النقوش و بالقرآن المقروء من الالفاظ التي تقرؤها أو الخطبة و بالمصحف الأوراق والجلد والا فليس يمينا فلا يكون كل ذلك يمينا الا اذا أراد به الصفة القديمة.

Artinya: “Ucapan seseorang seperti ‘Demi Kitab Allah’, ‘Demi Al-Qur’an’, atau ‘Demi Mushaf’ dihukumi sebagai sumpah selama maksudnya merujuk pada sifat qadim Allah (yakni kalam Allah sebagai salah satu sifat-Nya), bukan sekadar Al-Qur’an sebagai tulisan, bacaan, atau mushaf (benda fisik yang terdiri dari kertas dan sampul). Jika niatnya bukan kepada sifat Allah, maka sumpah itu tidak sah.”
(Hasyiyatul Baijuri, Jilid IV, hlm. 426)

Sumpah dengan Al-Qur’an Sah dengan Syarat

Berdasarkan penjelasan para ulama, hukum sumpah atas nama Al-Qur’an bisa sah secara syar’i, jika dan hanya jika:

  • Niatnya ditujukan kepada kalam Allah sebagai sifat-Nya.
  • Bukan semata-mata kepada bentuk fisik mushaf atau bacaan biasa.
  • Diucapkan oleh orang yang mukallaf, sadar, dan dengan kesungguhan hati.

Jika syarat-syarat tersebut terpenuhi, maka sumpah tersebut memiliki konsekuensi hukum: jika dilanggar, wajib membayar kafarat (tebusan sumpah), dan jika berdusta, maka berdosa.

Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap Muslim untuk berhati-hati dan memahami hukum sebelum mengucapkan sumpah, apalagi yang melibatkan nama atau kalam Allah seperti Al-Qur’an.***