HUT 25 Mega Bintang di Solo, Warga: Teriak Yel-Yel Revolusi Lawan Oligarki

Reportase, Penulis: Agusto / Foto: Ist Keterangan foto : Dialog Nasional "Lawan Oligarki" pada HUT 25 Mega Bintang di Solo, Minggu 5/6/2022. Jalurdua.com - Solo | HUT ke 25 Mega Bintang yang d...

HUT 25 Mega Bintang di Solo, Warga: Teriak Yel-Yel Revolusi Lawan Oligarki
Bacakan Artikel

Menurut salah satu warga yang berada yang hadir diluar arena acara, setuju dengan thema dialog "lawan oligarki" menurutnya, kenyataan yang ia rasakan hidup sehari-hari terasa semakin berat, pekerjaan sulit, aturan tumpang tindih, harga kebutuhan pokok semakin mahal.

Pendapat warga yang enggan disebut namanya itu senada dengan apa yang dipaparkan oleh para narasumber yang tampil, yakni Ir. H. La Nyalla Mahmud Mattalitti (Ketua DPD RI); Muh Jumhur Hidayat (Ketua KSPSI); Syahganda Nainggolan (Pemikir, Aktivis Gerakan); Rocky Gerung (Pengamat Politik) Dr. Ferry Julianto (Sekjend Syarikat Islam); Lieus Sungkharisma (Tokoh Keturunan Tionghoa); Syukri Fadholi (DIY); Kol. Purn. Sugeng Waras; H. Boyamin Syaiman, SH (Ketua Presidum KAMI).

Berikut paparan ringkasnya;
AA Lannyala Mataliti menyoroti soal UU terkait aturan syarat pemilihan presiden
(presiden threahold) 20%, bahwa menurutnya UU tidak mensyaratkan pemilihan Presiden - Wakil Presiden dengan PT 20%. Karenanya dirinya selaku Ketua DPD berkewajiban meluruskan persoalan ini.

Syahganda, bahwa praktek oligarki sudah terjadi di negara kita sejak lama saat itu dilakukan VOC yang masuk ke wilayah Indonesia/nusantara kemudian menghisap bangsa kita dan sumber alamnya. Akibat praktek itu rakyat dan pekerja buruh yang menjadi korbannya. Hal itu menurutnya praktek itu masih terjadi bahkan telah merambah kedalam wilayah ekonomi, partai politik, ini tugas berat kita untuk lepas dari penindasan itu menjadi kewajiban bersama. Syahganda mencontohkan beban ketua buruh KSPSI
yang sangat berat, sebab kesejahteraan buruh hari ini jauh dari harapan.

Muh Jumhur Hidayat, menyoroti soal ketidak adilan yang di alami oleh kaum pekerja buruh Indonesia saat ini. Bahwa dalam kenyataannya kesejahteraan buruh sejak jaman kolonial hingga sekarang belum terlihat perubahannya. Menurutnya sangat ironis membandingkan upah yang diterima buruh saat jaman penjajahan Belanda sebelum tahun 1945 dan sekarang tahun 2022 kesetaraan kesejahteraannya tidak terpaut jauh. Ini sangat menyedihkan dan tidak bisa dibiarkan, maka saatnya semua elemen bersatu bergerak melawan oligarki.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: