Kurang dari 24 Jam, Pelaku Pembunuhan Sadis di Bulukumba Diringkus Polisi
Ketenangan pesisir Bulukumba dikoyak oleh penemuan jasad ID (61), seorang warga Mariorennu, di gubuk rumput lautnya pada awal pekan. Korban ditemukan oleh anaknya sendiri dalam kondisi sangat mengenaskan: leher tergorok, perut terbuka lebar, dan usus terpotong lalu dimasukkan ke dalam jerigen. Penemuan ini segera memicu penyelidikan cepat dari Sat Reskrim Polres Bulukumba dan Polsek Gantarang.
Penyelidikan intensif dimulai pada Selasa (31/3/2026), hari yang sama ketika penemuan jasad dilaporkan dan olah TKP rampung. Empat orang saksi diperiksa secara maraton: MF (anak korban yang menemukan jasad), BC, serta dua nama yang kemudian mengguncang publik, SS dan ML. SS adalah anak kandung korban, sementara ML adalah tetangga korban. Keduanya, menurut keterangan polisi, tinggal di alamat yang sama dengan ID, sebuah fakta yang menambah lapisan ironi dan tragedi pada kisah ini.
Tak butuh waktu lama. Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam sejak dimulainya penyelidikan pada Selasa pagi, tim penyidik Sat Reskrim Polres Bulukumba berhasil menyingkap tabir gelap di balik kematian ID. Di antara empat saksi yang diperiksa, pengakuan mengejutkan datang dari dua orang: SS dan ML. "Dua saksi mengaku sebagai pelaku pembunuhan terhadap korban ID, yakni SS dan ML," ungkap Kapolres, menegaskan bagaimana penyelidikan yang cepat dan tepat sasaran mampu membuahkan hasil signifikan. Pengakuan ini bukan hanya memecah keheningan, tetapi juga mengukir luka yang lebih dalam di hati keluarga dan masyarakat. Bagaimana mungkin seorang anak kandung tega melakukan perbuatan sekeji itu terhadap ayahnya sendiri? Inilah pertanyaan yang mendesak untuk dijawab.
Anak Kandung dan Tetangga: Motif di Balik Kekejian yang Tak Terbayangkan
Dari hasil pemeriksaan mendalam, terkuaklah motif yang melatarbelakangi pembunuhan sadis Bulukumba ini: dendam. Dendam, sebuah emosi purba yang mampu meracuni hati dan membutakan akal sehat. Untuk ML (72), tetangga korban, dendam itu berakar dari riwayat perselisihan yang sudah lama terpendam dengan ID. Detail perselisihan itu mungkin hanya mereka berdua yang tahu, namun dampaknya kini terasa begitu nyata dan menghancurkan.
Namun, yang lebih memilukan adalah pengakuan SS (35), anak kandung bunuh ayah. Ia mengaku "sakit hati" karena tidak diakui sebagai anak kandung oleh korban ID. Rasa sakit hati ini, yang mungkin telah dipendam selama bertahun-tahun, menjadi bara yang membakar hingga akhirnya meledak dalam tindakan brutal. Sebuah luka batin yang tak tersembuhkan, penolakan dari darah daging sendiri, menjadi pemicu sebuah tragedi yang tak termaafkan. "Motif keduanya adalah dendam, sehingga tega melakukan pembunuhan yang tergolong sadis dan keji," tegas Kapolres, menyoroti betapa kuatnya motif dendam dalam mendorong manusia pada tindakan ekstrem. Ini adalah sebuah pengingat pahit tentang kerapuhan hubungan keluarga dan bahaya emosi yang tidak terkelola.
- Bukayo Saka Baik-baik saja
- Piala FA: Brace Haaland Bawa City Ungguli Liverpool 2-0 di Babak Pertama
- Kejuaraan Asia 2026: Jafar/Feli Ingin Pertahankan Medali, tapi Tetap Realistis
- Soal Rodri, Guardiola: Yang Tak Bahagia Harus Pergi
- Rosenior Tak Akan Cabut Ban Wakil Kapten Enzo Fernandez
- Kurang dari 24 Jam, Pelaku Pembunuhan Sadis di Bulukumba Diringkus Polisi
- MJH Terpilih Sebagai Ketum KSPSI, Andrianto : Optimis Akan Lebih Baik
- Masyarakat Antusias Kenakan Pakaian Hitam pada Hari Jadi Kabupaten Bulukumba
- Bukayo Saka Baik-baik saja
- Piala FA: Brace Haaland Bawa City Ungguli Liverpool 2-0 di Babak Pertama