News and Education Versi penuh
Edukasi

Mencicipi Kopi dan Buku dari Barista Pinggir Jalan di Palampang

(Bagian Pertama) Oleh: MJ, Siregar Menyinggahi Kedai Kopi Litera untuk pertama kalinya, maka kesan pertama dari benturan mata kita adalah suasana santai sebuah kedai kopi. Namun dengan sentuhan y...

Oleh masterjalurdua 06 Mar 2020 17:45 4 menit baca

(Bagian Pertama)
Oleh: MJ, Siregar

Menyinggahi Kedai Kopi Litera untuk pertama kalinya, maka kesan pertama dari benturan mata kita adalah suasana santai sebuah kedai kopi. Namun dengan sentuhan yang berbeda dibanding kedai kopi ataupun warkop lainnya yang saat ini sedang menjamur di seantero Kabupaten Bulukumba.

Kedatangan kami disambut oleh seorang pria yang dari wajahnya saya menebak dia masih muda. Meskipun di kepalanya sudah dihiasi sedikit rambut putih. Pria itu dilengkapi senyuman pada bibirnya. Dia rupanya muncul dari ruang barista yang pintunya menganga lebar. Sepertinya ruang barista itu dulunya adalah semacam ruko atau sejenisnya.

Pengunjung Kedai Kopi Litera

Sebagaimana kedai kopi atau warkop umumnya, kedai kopi ini pun memiliki beberapa buah meja dan kursi. Uniknya, terdapat setidaknya tiga meja yang dikawal kursi-kursi unik. Bentuknya seperti silinder. Ketika saya mencoba duduk di atasnya saya baru menyadari ternyata saya berada di atas batang pohon kelapa yang didesain sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai tempat duduk.

Yang berbeda dari warkop lainnya adalah koleksi buku-buku bacaan yang terpajang di beberapa sudut. Ada yang tersusun rapi di rak. Bahkan ada pula yang sengaja "dihidangkan" langsung di atas meja. Saya terpukau, "Ini rupanya kedai kopi dengan konsep literasi," pikir saya.

Kami lalu berkenalan dengan pria yang menyambut kami. Namanya Alfian Nawawi. Dia owner sekaligus barista dan pelayan di Kedai Kopi Litera. Dia melakukan ketiga fungsi itu seorang diri. Menurut pengakuannya, dia dibantu oleh istrinya pada sore dan malam hari. Istrinya bekerja pada sebuah perusahaan swasta di Kota Tanete, sekitar tujuh kilometer dari Palampan, kelurahan tempat kedai kopi ini beroperasi.

Para pelajar ini asyik memilih buku-buku bacaan di Kedai Kopi Litera

"Masih terbilang baru, mas. Belum cukup sebulan. Kedai Kopi ini bahkan belum cukup dua puluh hari beroperasi sejak launching pada 23 Februari lalu." Ungkapnya saat kami menanyakan kapan berdirinya kedai kopi ini.

Saya memandang ke sekitar. Tembok kanan kiri dihiasi lukisan mural. Kebanyakan berkonten literasi dan kopi. Ada karikatur, kalimat-kalimat, dan lainnya dalam nuansa warna yang didominasi cokelat susu dan hitam.

"Barista Pencipta Varian Menu Unik"
Alfian Nawawi yang ternyata seorang penulis dan mantan penyiar di sebuah radio swasta di Bulukumba ini mengaku menjalani profesi barista masih terbilang sangat baru.

Saya tidak percaya sebab nyatanya di kedai kopi ini terdapat beberapa varian kopi unik yang merupakan kreasinya sendiri. Yang menarik perhatian kami yaitu Kopi Soekarno, sebuah varian black coffee.

Kopi Soekarno (Foto: Koleksi Kedai Kopi Litera)

Alfian berkisah bahwa dia terinspirasi dari kebiasaan minum kopi sang proklamator, Ir. Soekarno. Diberi nama Kopi Soekarno lantaran termasuk kategori black coffee, tanpa campuran susu. Cara meraciknya sebenarnya berbeda dengan kopi tubruk yang biasa dikonsumsi Soekarno, yakni sesendok kopi dan satu setengah sendok gula yang "ditubrukkan" dengan air panas dalam cangkir. Kopi Soekarno "ciptaan" Alfian berupa kopi jenis arabika yang diekstraksi melalui teko kuningan dan penapis dari kain. Hanya saja tingkat kepekatannya berbeda. Lumayan kental! Para pengunjung bisa menambahkan gula pasir yang disediakan sesuai selera masing-masing. Yang luar biasa, Kopi Soekarno disajikan dalam wadah cangkir antik dari era 1950-1960an. Wadah untuk gula pasirnya pun dari cangkir jaman dulu dekade 1950-an. Nuansa "masa Soekarno" langsung terhidang ketika saya mencoba mereguknya untuk pertama kali.

Varian lainnya yang tidak kalah menariknya adalah Kopi Susu Litera yang juga diracik melalui teko kuningan. Harganya sama dengan Kopi Soekarno, Rp. 8.000. Ya harganya sangat terjangkau. Tidak terlalu mahal meskipun juga tidak tergolong murah. Pilihan lainnya yang bisa dijajal adalah Kopi Susu Vietnam yang disajikan melalui Vietnam Drip. Sedangkan menu kopi yang paling sangar ada dua, yaitu Kopi Literavenesia yang diekstraksi melalui moka pot, alat seduh kopi khas Itali ciptaan Bialetti yang terkenal itu dan Kopi Strong La Galigo yang harganya paling mahal di tempat ini, Rp. 25.000/cangkir. Dilabeli "strong" lantaran diracik khusus untuk membangkitkan stamina pria dalam "urusan tempat tidur. "

(Bersambung)