Mencicipi Kopi dan Buku dari Barista Pinggir Jalan di Palampang

(Bagian Pertama) Oleh: MJ, Siregar Menyinggahi Kedai Kopi Litera untuk pertama kalinya, maka kesan pertama dari benturan mata kita adalah suasana santai sebuah kedai kopi. Namun dengan sentuhan y...

Mencicipi Kopi dan Buku dari Barista Pinggir Jalan di Palampang
Bacakan Artikel
Kopi Soekarno (Foto: Koleksi Kedai Kopi Litera)

Alfian berkisah bahwa dia terinspirasi dari kebiasaan minum kopi sang proklamator, Ir. Soekarno. Diberi nama Kopi Soekarno lantaran termasuk kategori black coffee, tanpa campuran susu. Cara meraciknya sebenarnya berbeda dengan kopi tubruk yang biasa dikonsumsi Soekarno, yakni sesendok kopi dan satu setengah sendok gula yang "ditubrukkan" dengan air panas dalam cangkir. Kopi Soekarno "ciptaan" Alfian berupa kopi jenis arabika yang diekstraksi melalui teko kuningan dan penapis dari kain. Hanya saja tingkat kepekatannya berbeda. Lumayan kental! Para pengunjung bisa menambahkan gula pasir yang disediakan sesuai selera masing-masing. Yang luar biasa, Kopi Soekarno disajikan dalam wadah cangkir antik dari era 1950-1960an. Wadah untuk gula pasirnya pun dari cangkir jaman dulu dekade 1950-an. Nuansa "masa Soekarno" langsung terhidang ketika saya mencoba mereguknya untuk pertama kali.

Varian lainnya yang tidak kalah menariknya adalah Kopi Susu Litera yang juga diracik melalui teko kuningan. Harganya sama dengan Kopi Soekarno, Rp. 8.000. Ya harganya sangat terjangkau. Tidak terlalu mahal meskipun juga tidak tergolong murah. Pilihan lainnya yang bisa dijajal adalah Kopi Susu Vietnam yang disajikan melalui Vietnam Drip. Sedangkan menu kopi yang paling sangar ada dua, yaitu Kopi Literavenesia yang diekstraksi melalui moka pot, alat seduh kopi khas Itali ciptaan Bialetti yang terkenal itu dan Kopi Strong La Galigo yang harganya paling mahal di tempat ini, Rp. 25.000/cangkir. Dilabeli "strong" lantaran diracik khusus untuk membangkitkan stamina pria dalam "urusan tempat tidur. "

(Bersambung)

Pilih Halaman: