News and Education Versi penuh
Teknologi

Mira Murati, Perempuan di Balik AI Canggih yang Menolak Rp16 Triliun dari Marc Zuckerberg

JALURDUA.COM - Nama Mira Murati kembali menjadi sorotan dunia teknologi. Alasannya bukan karena meluncurkan produk baru, melainkan karena keberaniannya menolak tawaran fantastis dari Mark Zuckerb...

Oleh Rahmat 10 Aug 2025 05:16 2 menit baca

JALURDUA.COM - Nama Mira Murati kembali menjadi sorotan dunia teknologi. Alasannya bukan karena meluncurkan produk baru, melainkan karena keberaniannya menolak tawaran fantastis dari Mark Zuckerberg.

Menurut laporan Wired, pendiri sekaligus CEO Thinking Machines Lab (TML) itu menampik proposal akuisisi senilai 1 miliar dolar AS—sekitar Rp 16 triliun—yang diajukan bos besar Meta.

Bukan cuma Murati, seluruh tim TML juga kompak menolak tawaran tersebut. Padahal, Meta menawarkan kompensasi personal yang tak main-main, mulai dari Rp 3 triliun hingga Rp 16 triliun per orang.

“Sampai sekarang, belum ada satu pun dari Thinking Machines Lab yang menerima tawaran itu,” ungkap Murati.

Sebelumnya, Meta bahkan mencoba membeli TML secara keseluruhan, tetapi usulan itu juga mentok di pintu penolakan.

Siapa Sebenarnya Mira Murati?

Mira Murati lahir di Albania pada 1988. Namanya mulai melambung ketika menjabat sebagai Chief Technology Officer (CTO) di OpenAI—organisasi yang melahirkan ChatGPT.

Saat remaja, Murati mendapat beasiswa untuk bersekolah di Kanada, lalu melanjutkan kuliah di Amerika Serikat. Ia meraih dua gelar sekaligus:

  1. Sarjana Matematika dari Colby College
  2. Sarjana Teknik Mesin dari Dartmouth College

Sebelum terjun ke dunia AI, Murati sempat berkarier di perusahaan besar seperti Goldman Sachs, Zodiac Aerospace, dan Tesla.

Peran Besar di OpenAI

Murati bergabung dengan OpenAI pada 2018 dan menjadi motor di balik pengembangan tiga teknologi ikonik:

  1. ChatGPT – chatbot yang kini digunakan jutaan orang di dunia
  2. DALL·E – AI kreator gambar dari deskripsi teks
  3. Codex – AI penulis kode pemrograman

Namanya makin dikenal ketika sempat menjabat CEO sementara OpenAI selama tiga hari, menggantikan Sam Altman yang diberhentikan dewan sebelum akhirnya kembali.

Mendirikan Thinking Machines Lab

Pada September 2024, Murati meninggalkan OpenAI dan mendirikan Thinking Machines Lab. Startup ini langsung mencuri perhatian karena merekrut talenta kelas dunia dari OpenAI dan Meta.

Tak tanggung-tanggung, TML mengamankan pendanaan awal 2 miliar dolar AS (sekitar Rp 33 triliun), dan kini valuasinya melonjak menjadi Rp 197 triliun—bahkan sebelum merilis produk komersial. Murati berjanji, produk AI perdana TML akan hadir tahun ini.

Ambisi Besar Meta

Penolakan TML tak membuat Zuckerberg menyerah. Beberapa bulan terakhir, Meta memang agresif memburu pakar AI dari raksasa teknologi lain, seperti OpenAI, Google DeepMind, Anthropic, hingga Apple.

Setelah mengakuisisi Scale AI pada Juni 2025, Meta membentuk Meta Superintelligence Labs (MSL) yang dipimpin CEO Scale AI, Alexandr Wang.

Ia bekerja bersama tokoh-tokoh ternama seperti mantan CEO GitHub Nat Friedman dan sejumlah figur besar lainnya.***

Topik terkait
Mira Murati pendiri Chat GPT pembuat AI pembuat kecerdasan buatan pencipta AI Mark Zuckerberg