News and Education Versi penuh
Edukasi

MUI Tangsel Kader 50 Anak Muda Jadi Mubaligh

PAMULANG-JALURDUA.COM Kota Tangsel menggelar Pendidikan Kader Ulama (PKU) selama tiga hari, Selasa-Rabu (28-29/9), dengan peserta sebabyak 50 orang. Mereka tersebar di tujuh kecamatan se Tangsel, di...

Oleh masterjalurdua 29 Sep 2021 04:45 3 menit baca

PAMULANG-JALURDUA.COM Kota Tangsel menggelar Pendidikan Kader Ulama (PKU) selama tiga hari, Selasa-Rabu (28-29/9), dengan peserta sebabyak 50 orang. Mereka tersebar di tujuh kecamatan se Tangsel, di gedung Kelembagaan Jalan Siliwangi Pamulang.

Asisten Daerah Satu Kota Tangsel Chaerudin hadir dalam pembukaan menyampaikan bahwa PKU MUI Kota Tangsel merupakan salah satu upaya melahirkan ulama-ulama untuk masa depan. Regenerasi ulama harus terus dilakukan. Sebab menjadi ulama itu tidaklah mudah. Ulama secara pengertian adalah orang yang berilmu. Maka dengan adanya PKU ini Pemkot Tangsel sangat mengapresiasi.

“Kami Pemkot Tangsel menyambut baik atas diselenggarakannya pendidikan kader ulama. Ini sebagai regenerasi penerus para nabi sebagaimana ulama warosatul anbiya,” ujarnya.

Dirinya berpesan agar para peserta PKU betul-betul mengikuti dengan serius supaya dapat mengimplementasikan ilmu dari para narasumber yang membidangi berbagai disiplin ilmu. Menjadi seorang ulama memang harus dikader, dididik secara matang. Sehingga ketika terjun ke masyarakat penyampaiannya sejuk, damai supaya masyarakat juga dapat mengamalkan dengan baik nilai-nilai Islam.

“Ulama yang akan menjadi rujukan masyarajat. Oleh sebab itu harus memiliki akhlak yang baik. Sebab ulama menjadi rujukan masyarakat. PKU tentu menjadi misi sektor keagamaan dan penguatan syariat Islam. Maka para kader diharapkan bisa mengaplikasikan kepada di tengah masyarakat,” pesan ia.

PKU digelar oleh Komisi Pendidikan Pelatihan dan Kaderisasi MUI Kota Tangsel yang diketuai Dr Dimyati Sajari, Ketua Bidang PKU KH A. Rozak Sastra. Sedangkan selaku ketua panitia, Abdul Rozak.

Sedangkan Ketua MUI Tangsel kh Saidih pada kesempatan itu menyampaikan tema “Suka Duka Dalam Berdakwah “. Menurutnya berdakwah harus memperhatikan kondisi jamaah, termasuk melihat waktu perlu disesuaikan. Menjadi pendakwah harus memiliki akhlak yang baik. Jangan sampai berbuat tercela kepada istrinya sementara dirinya sebagai pendakwah. Ini akan bertolak belakang.

            “Jadi semuanya harus diperhatikan, sebab tingkah laku seseorang lebih tajam dari pada ucapan. Maka jagalah akhlak bagi siapa saja yang ingin selamat,” pesannya.     

Kepala Kantor Kemenag Tangsel Abdul Rojak MA menyajikan tema "Retorika Dalam Berdakwah". Ia menjelaskan bahwa PKU adalah program unggulan MUI baik di pusat dan di daerah. PKU adalah ikhtiar dalam mencetak kader ulama. Dirinya berharap seluruh peserta yang hadir mudah-mudahan bisa menjadi ulama.

“Ulama adalah orang yang memiliki ilmu baik secara agama dan umum. Sebetulnya PKU yang paling bagus di pondok pesantren. Mulai dari akhlak adab dan komunikasi, di sana digembleng” tambah ia.

Retorika dakwah harus didukung cara komunikasi. Sedalam apapun keilmuan seseorang bila tidak didukung oleh retorika maka apa yang disampaikan tidak menarik. Dalam ilmu komunikasi retorika disebut sebagai public speking. Selain menguasai retorika juga didukung dengan pengusaan substansi atau materi. Di tambah lagi, dalam menata penampilan supaya menarik. Penampilan menarik menjadi daya tarik tersendiri.

“Usahakan saat tampil di atas panggung harus dalam kondisi sempurna. Supaya jamaah juga semangat dan menerima materi apa yang disampaikan. Tentu seorang ulama bagaimana bisa menyampaikan materi sepenuh hati supaya orang yang mendengarkan dengan sendirinya ingin berbuat kebaikan. Namun ada juga pendakwah yang berbicara hingga berbusa-busa tapi tidak masuk ke dalam hati jamaah,” jelasnya.

Selain itu, para peserta juga dilatih bagaimana berdakwah dengan Adab dan Etika Berdakwah yang disampaikan oleh Dr H Dimyati Sajari. Islam memandang adab sangat tinggi, sehingga ada ungkapan bahwa adab lebih tinggi dari ilmu. Artinya seseorang yang berilmu jika tidak memiliki adab tidak menjadi apa-apa. Selain itu peserta mendapatkan materi tentang dakwah dengan aplikasi media “Aplikasi Media Dalam Berdakwah” yang disampaikan oleh H Azharul Fuad. Para peserta diberikan pelatihan bagaimana cara membuat konten dakwah sesuai dengan perkembangan zaman. (red).