Samanna Mabbau Bembe

Tidak ada ungkapan dalam Bahasa Bugis yang lebih menyebalkan dibandingkan: "Samanna mabbau bembe." Artinya: "Seperti bau kambing." Biasanya ungkapan ini kerap dilontarkan oleh orang tua kepada anakny...

Samanna Mabbau Bembe
Bacakan Artikel

JALURDUA Tidak ada ungkapan dalam Bahasa Bugis yang lebih menyebalkan dibandingkan: "Samanna mabbau bembe." Artinya: "Seperti bau kambing." Biasanya ungkapan ini kerap dilontarkan oleh orang tua kepada anaknya yang malas mandi.

Di luar rumah, dalam ruang sosial Bugis-Makassar, ungkapan menyebalkan itu menjadi bahan guyonan ketika ada seseorang malas menjaga kebersihan. Badannya "sakkulu" alias bau. Bukan hanya sebatas tubuh dan pakaian. Ungkapan itu juga merambah kondisi tempat tinggal.

Pada sisi verba, lagi-lagi kambing menjadi korban. Selain diidentikkan dengan bau tidak sedap, kambing pun dimanfaatkan sebagai bahan perbandingan untuk menciptakan ungkapan "kambing hitam."

Bayangkan saja seandainya kambing berdemo menuntut pengembalian nama baik spesis mereka. Untung saja sejauh ini kambing tidak punya hasrat untuk berdemo. Bahkan tidak seekor pun yang berbakat jadi korlap aksi unjuk rasa. Bukan karena kambing tidak doyan nasi bungkus. Mereka selama ini asyik-asyik saja. Tidak peduli ungkapan-ungkapan merugikan yang diciptakan manusia.

Barangkali kambing sudah sejak dulu memaklumi ulah manusia dalam "kekerasan verbal." Jika kepalanya pening sehabis makan daging kambing, manusia juga kerap menyalahkan kambing.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: