Sinergi TNI dan Media di Bulukumba: Jejak Dedikasi Letkol Sarman
JALUR DUA.COM, BULUKUMBA – Suasana hangat penuh penghormatan terasa ketika Ketua Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia (FRPMI) Kabupaten Bulukumba, Saiful Alief Subarkah (SAS), menyampaikan apr...
JALUR DUA.COM, BULUKUMBA – Suasana hangat penuh penghormatan terasa ketika Ketua Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia (FRPMI) Kabupaten Bulukumba, Saiful Alief Subarkah (SAS), menyampaikan apresiasi terbuka kepada Komandan Kodim (Dandim) 1411/Bulukumba, Letkol Infanteri Sarman, S.Hub.Int.
Pernyataan yang disampaikan melalui press release tertanggal 26 Februari 2026 itu bukan sekadar formalitas. Ada rekam jejak, ada pengalaman kolektif, dan ada kesan mendalam yang dirasakan masyarakat selama kepemimpinan beliau di Bulukumba.
“Selama bertugas di Bulukumba, beliau tidak hanya menjalankan fungsi pengamanan wilayah dengan baik, tetapi juga aktif menjalin sinergi dengan pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan media. Ini menjadi nilai plus yang patut diapresiasi,” ujar SAS.
Kalimat itu sederhana, tetapi sarat makna.
Yang diapresiasi bukan hanya jabatan seorang Dandim. Yang dihargai adalah gaya kepemimpinan.
Letkol Sarman dinilai mampu menjalankan dua peran sekaligus: menjaga stabilitas keamanan sekaligus membangun kedekatan sosial.
Keamanan bukan hanya soal patroli dan pengawasan. Keamanan adalah rasa aman. Dan rasa aman lahir dari kepercayaan.
Momentum ini menjadi refleksi akhir masa tugas Letkol Sarman sebelum melanjutkan pengabdian di tempat baru.
Bagi insan pers lokal, momen ini bukan sekadar seremoni perpisahan, melainkan evaluasi atas hubungan kelembagaan yang telah terbangun.
Menurut SAS, perbedaannya terletak pada keseimbangan.
Tegas dalam Prinsip, Humanis dalam Pendekatan
Disiplin militer tetap ditegakkan. Namun pendekatan yang digunakan tidak menciptakan sekat sosial. Letkol Sarman hadir bukan hanya sebagai aparat, tetapi sebagai mitra.
Dalam berbagai agenda sosial dan pembangunan daerah, Kodim 1411/Bulukumba aktif terlibat. Mulai dari dukungan terhadap program pemerintah daerah, kegiatan kemasyarakatan, hingga respons cepat dalam situasi darurat.
Pendekatan ini memperkuat konsep kemanunggalan TNI dan rakyat yang selama ini menjadi semangat institusi.
Hubungan antara aparat dan media seringkali formal dan kaku. Namun pola itu, menurut FRPMI, mengalami perubahan positif di Bulukumba.
Keterbukaan terhadap insan pers menjadi fondasi transparansi informasi publik. Komunikasi berjalan dua arah. Media tidak sekadar menerima informasi, tetapi dilibatkan dalam diskusi yang konstruktif.
“Atas nama Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia Kabupaten Bulukumba, kami menyampaikan terima kasih atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdian beliau selama bertugas di Bulukumba. Semoga sukses dan terus menginspirasi di tempat tugas barunya,” tambah SAS.
Nukilan ini mempertegas bahwa apresiasi datang dari pengalaman nyata, bukan narasi simbolik.
Jejak yang Ditinggalkan
Kini, saat masa tugas Letkol Sarman di Bulukumba berakhir, yang tertinggal bukan hanya kenangan, tetapi standar.
Standar tentang kepemimpinan yang tegas namun hangat.
Standar tentang sinergi yang nyata, bukan simbolik.
Standar tentang komunikasi yang terbuka dan saling menghargai.
Bulukumba tetap berjalan. Pembangunan terus berlanjut. Dan jejak kepemimpinan yang humanis akan selalu menjadi bagian dari cerita daerah ini.**