Anyelir Masih Melacur

Namanya, sebut saja Anyelir. Bukan Mawar. Perempuan cantik seperti dia sangat berlimpah di negeri ini. Hanya nasib mereka yang beragam. Apakah para perempuan seks komersil juga terdampak pandemi covi...

Anyelir Masih Melacur
Bacakan Artikel

JALURDUA Namanya, sebut saja Anyelir. Bukan Mawar. Perempuan cantik seperti dia sangat berlimpah di negeri ini. Hanya nasib mereka yang beragam. Apakah para perempuan seks komersil juga terdampak pandemi covid-19? "Ya, kami salah satu kaum pekerja yang terdampak dan terpukul!" Kata Anyelir.

"Bukankah kalian adalah kaum yang memang sejak dulu menggantungkan nasib pada pekerjaan pukul memukul?" Kata saya.
"Ah mas bisa aja," sahut Anyelir sambil tertawa.

Istilah pelacuran sangat membumi di negeri ini. Bahkan sampai merangsek penggunaaannya ke hal lain. Pada akhir dasawarsa 1950'an dan awal 1960'an ramai diperbincangkan apa yang disebut 'pengkhianatan intelektual', yang dipertajam dengan istilah 'pelacuran intelektual'. Kaum intelektual disarankan agar mengambil jarak dari kekuasaan dan penguasa, agar tidak mengkhianati kebenaran dan keadilan yang mereka perjuangkan. Walhasil banyak intelektual ambil jarak dari kekuasaan, sehingga terselamatkan dari pengkhianatan revolusi. Tetapi sekarang, ramai-ramai kaum terpelajar merapatkan diri ke barisan kekuasaan.

Suatu malam yang luang, saya sempatkan mengobrol dengan Anyelir secara virtual. Banyak kisah menarik yang dia bisa paparkan dan itu bisa berarti sia-sialah makanan sisa-sisa buka puasa yang saya siapkan. Lantaran banyak obrolannya yang sayang jika dilewatkan.

Anyelir seperti PSK lain pada umumnya, selalu beranjak dari alasan paling klasik, "Faktor ekonomi, mas." Ketika wabah menyapa dan physically distancing digencarkan maka menurunlah penghasilan Anyelir.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2