Lebaran Pernah Tak Berdaun Pandan

Jika lebaran adalah kepulangan yang meriah maka ia memang dirayakan penuh oleh segala partikel semesta. Banyak hati yang mewangi -karena libur lagi- dan sudah tentu musim makanan. Para penjahat pun b...

Lebaran Pernah Tak Berdaun Pandan
Bacakan Artikel

JALURDUA Jika lebaran adalah kepulangan yang meriah maka ia memang dirayakan penuh oleh segala partikel semesta. Banyak hati yang mewangi -karena libur lagi- dan sudah tentu musim makanan. Para penjahat pun boleh berlebaran. Hanya pada lebaran semua profesi dan tabiat harus terlibat. Saling bermaafan dan makan-makan.

Orang-orang jauh yang sebelumnya tidak pernah kelihatan akan datang dengan terencana. Bertangkupan dengan pekuburan adalah destinasi spiritual. Maka berziarah adalah perjalanan menenteng do'a-do'a. Lalu irisan-irisan kecil daun pandan bersama bebungaan pilihan menandai setiap makam. Itulah sebabnya sebagian besar manusia nusantara sangat menantikan lebaran. Tidak sekadar untuk jabat tangan.

Barangkali hanya pada lebaran kita memahami makna kangen yang kolektif. Padahal nominalnya cuma sekali sampai dua kali setahun. Pertemuan tahunan antara orang-orang yang masih hidup dan yang sudah berpulang itulah yang dihiasi daun pandan. Di meja makan ia membungkus ketupat. Di atas kuburan dianggap setara do'a.

Tumbuhan monokotil dari keluarga pandanaceae itu aromanya wangi. Ia komponen penting dalam tradisi masakan Indonesia dan beberapa negara lain di Asia Tenggara.

Akarnya besar. Memiliki akar tunggang yang menopang tumbuhan ini bila telah cukup besar. Daunnya memanjang seperti daun palem dan tersusun apik.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: