Bundu-Bundu

Bagi Bung Karno, dekolonialisasi adalah pembongkaran terhadap semua struktur ekonomi, politik, dan sosial budaya yang merintangi kemerdekaan.

Bundu-Bundu
Bacakan Artikel

Penjelasan Bung Karno secara gamblang membabat argumentasi segelintir orang termasuk di kalangan elite Indonesia bahwa kemerdekaan hanya dimaknai dengan menghilangnya kolonialisme secara fisik. Bagi mereka, perjuangan kemerdekaan sudah selesai dengan adanya pengakuan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949.

Di benak Bung Karno, sekalipun sebuah bangsa sudah memproklamirkan kemerdekaan, bentuk-bentuk kolonialisme lama masih bercokol. Kolonialisme lama, dengan menggunakan jubahnya yang baru, yakni neo-kolonialisme, akan terus menjaga kepentingan-kepentingannya di bekas negara jajahan.

Memasuki dekade 1950-an, faktanya sebagian besar ekonomi Indonesia masih dicengkeram perusahaan-perusahaan asing. Bahkan sebagian besar berada di tangan perusahaan-perusahaan Belanda. Di zaman itu dikenal The Big Five, lima perusahaan Belanda yang sangat dominan, yakni Jacobson & van den Berg, Internatio, Borneo-Sumatra Maatschappij (Borsumij), Lindeteves, dan Geo Wehry. Sejak saat itulah Bung Karno memulai jargon “Revolusi Belum Selesai”.

Bagi Bung Karno, dekolonialisasi adalah pembongkaran terhadap semua struktur ekonomi, politik, dan sosial budaya yang merintangi kemerdekaan. Dekolonialisasi bukan hanya bergerak di tataran praktis kebijakan, tapi juga mencakup cara berpikir dan mentalitas. Ini termasuk pembongkaran terhadap semua struktur, narasi, dan hirarki yang dipakai kolonialisme untuk memaksakan kepatuhan.

Dalam ekonomi, dekolonialisasi itu mencakup perombakan terhadap struktur dasar perekonomian, yakni dari ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional-merdeka. Di sini, bukan cuma soal pengambilalihan kapital dan perusahaan asing tetapi merombak struktur perekonomiannya: struktur kepemilikan, orientasi produksi, dan kekuatan produktif.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: