Cahaya Qurban di Hati Mahendra

Di setiap sudut masjid dan halaman rumah, gema takbir berkumandang. Udara pagi Idul Adha terasa berbeda, penuh harapan dan keikhlasan. Sungguh hari yang dinanti-nanti oleh Mahendra, seorang pria sede...

Cahaya Qurban di Hati Mahendra
Bacakan Artikel

JALURDUA Di setiap sudut masjid dan halaman rumah, gema takbir berkumandang. Udara pagi Idul Adha terasa berbeda, penuh harapan dan keikhlasan. Sungguh hari yang dinanti-nanti oleh Mahendra, seorang pria sederhana dengan hati yang lapang, meski kantongnya tak selalu penuh.

Mahendra selalu bermimpi untuk bisa melaksanakan qurban. Setiap tahun, ia menabung dengan penuh semangat, berharap suatu saat mampu membeli seekor kambing untuk disembelih. Namun, realitas kehidupan seringkali lebih berat dari impian. Uang yang terkumpul selalu terpakai untuk kebutuhan mendesak keluarganya.

Namun, semangat Mahendra tak pernah padam. Baginya, qurban bukan sekadar tentang kambing atau sapi, melainkan tentang pengorbanan dan keikhlasan hati. Dengan niat suci, ia memutuskan untuk berkontribusi dengan cara lain. Pagi itu, ia datang ke masjid dengan senyum dan tenaga yang penuh semangat.

Di halaman masjid, ia melihat para jamaah yang mampu membeli hewan qurban, berdiri dengan bangga dan bersyukur. Mahendra tak merasa kecil hati. Ia tahu, rezeki setiap orang berbeda, dan Allah melihat niat di balik setiap tindakan.

"Mahendra, maukah kau membantu kami membagikan daging qurban ini kepada warga yang berhak?" tanya seorang panitia dengan lembut.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: