Demo Buruh 30 September Sepi: Strategi Jumhur Lebih Efektif Dari Said Iqbal

Gerakan buruh Indonesia kembali mendapat sorotan setelah Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) di bawah kepemimpinan Jumhur Hidayat meneguhkan diri sebagai organisasi buruh terbesar d...

Demo Buruh 30 September Sepi: Strategi Jumhur Lebih Efektif Dari Said Iqbal
Bacakan Artikel

Fenomena ini sejatinya tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Brasil, misalnya, serikat buruh CUT (Central Unica dos Trabalhadores) sejak lama menjadi kekuatan politik raksasa. Dukungan massa buruh yang solid bahkan mampu mengantarkan seorang mantan buruh logam, Lula da Silva, menjadi Presiden Brasil. Hal ini membuktikan bahwa kekuatan buruh mayoritas dapat menjadi barometer elektoral yang selalu diperebutkan oleh partai politik.

Contoh lain bisa dilihat di Jerman, negara industri terbesar Eropa. Di sana, serikat buruh memiliki posisi strategis dalam sistem co-determination di mana perwakilan buruh duduk langsung dalam dewan pengawas perusahaan. Serikat buruh Jerman bukan hanya menjadi mitra dialog pemerintah, tetapi juga bagian dari pengambilan keputusan ekonomi nasional. Inilah yang membuat model hubungan industrial Jerman sering dijadikan rujukan, buruh kuat, namun tidak anarkis, kritis, namun tetap konstruktif.

Dari sini terlihat jelas perbedaan strategi dua tokoh besar buruh di Indonesia. Iqbal lebih mengandalkan mobilisasi massa dan politik elektoral, sementara Jumhur memilih konsolidasi dan dialog, dengan tetap menjaga kekuatan massa besar sebagai cadangan daya tawar. Mobilisasi memang bisa menarik perhatian, tetapi tanpa dukungan organisasi sebesar KSPSI, hasilnya kerap terbatas. Sebaliknya, strategi Jumhur terbukti lebih rasional dan berkelanjutan.

Ke depan, KSPSI berpotensi menjadi kekuatan dalam politik nasional. Dengan basis massa terbesar, organisasi ini bisa ikut serta dalam arah dukungan politik, sekaligus menjaga agar buruh tetap independen dan tidak terjebak dalam kepentingan elite.

Satu hal yang kini semakin terang, strategi KSPSI di bawah Jumhur Hidayat bukan hanya lebih efektif, tetapi juga lebih diterima buruh pekerja. Dan yang paling penting, ia menjaga agar gerakan buruh tetap murni memperjuangkan hak pekerja, bukan sekadar kepentingan politik praktis dan sesaat.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: