Mengapa Hubungan Percintaan Beda Usia Selalu Dianggap Tabu?
Foto : BBC News England Jalurdua.com - Jakarta | Masyarakat semakin progresif. Saat ini banyak orang semakin menerima bahwa cinta bisa hadir dalam berbagai cara. Tapi, mengapa orang masih memandan...
Pasangan dengan perbedaan usia yang besar sering dihakimi. Meskipun beberapa ahli percaya bahwa ini bisa berubah, yang lain berpendapat bahwa generasi muda bisa menjadi semakin tidak setuju dengan cinta beda usia.
Sebuah dorongan evolusioner
Mereka yang menganggap kebiasaan berkencan DiCaprio tidak menyenangkan, bukan tak punya alasan. Rasa risi terhadap hubungan dengan usia yang jauh berbeda sangat umum terjadi, dan seperti kebanyakan tabu, asalnya bisa ditarik dari evolusi ribuan tahun serta norma sosial dan budaya yang lebih baru.
"Dalam banyak budaya, jatuh cinta dengan seseorang yang jauh lebih tua atau lebih muda dianggap tidak dapat diterima," kata Elena Touroni, konsultan psikolog dan salah satu pendiri The Chelsea Psychology Clinic di London.
"Dari perspektif evolusi, dorongan berkeluarga bisa berdampak pada siapa yang kita pilih untuk menjalin hubungan - baik dari perspektif biologis tetapi juga agar kedua orang tua masih hidup untuk membesarkan anak."
Untuk pria dan perempuan, kesuburan cenderung menurun setelah usia sekitar 35. Walau perempuan kehilangan kesuburan jauh lebih cepat, masuk akal jika kita berevolusi untuk tertarik pada orang-orang yang sepantaran.
Meskipun data yang ada masih relatif sedikit soal usia dalam hubungan LGBTQ+, kita tahu bahwa perbedaan usia di antara pasangan sesama jenis jauh lebih umum. Ini mungkin mencerminkan seberapa besar kemampuan reprodukasi memengaruhi cara kita menemukan pasangan.
Namun, ini bukan hanya tentang mengasuh anak. Berpasangan dengan seseorang dengan usia yang sama membuat hubungan Anda lebih mungkin menjadi lebih dalam, menurut penelitian.
Para ahli percaya bahwa penyebabnya adalah karena pasangan cenderung melalui tantangan dan tahapan hidup pada waktu yang sama, dan karena itu dapat terus menemukan titik temu.
"Dalam 10 tahun pertama pernikahan, orang melaporkan tingkat kepuasan pernikahan yang lebih tinggi ketika pasangan mereka lebih muda dari mereka," kata Grace Lordan, profesor ilmu perilaku di London School of Economics, yang saat ini sedang meneliti hubungan beda usia dan kebahagiaan.
"Namun seiring waktu, kepuasan pernikahan pasangan usia yang berbeda menurun, lebih dari pasangan usia yang sama. Kemungkinan perceraian pasangan seumuran juga lebih rendah."
Namun, terlepas dari faktor-faktor mendorong kita memilih pasangan sepantaran ini, keadaan sosial-ekonomi terkadang dapat melawan dorongan evolusioner.
Pada tahun 1900, perbedaan usia rata-rata antara pasangan adalah sekitar dua kali lipat perbedaan pada tahun 2000.
Secara historis, banyak orang, terutama kelas menengah dan atas, akan jauh lebih mungkin menikah dengan seseorang yang jauh lebih tua atau lebih muda dari mereka.
- Profil Sari Yuliati pengganti Mukhtarudin sebagai sekretaris F-Golkar di DPR
- Kilas balik hubungan bersejarah Prabowo dan Raja Yordania
- Raja Yordania Abdullah II sambangi Indonesia, berikut profilnya
- Profil istri Wiranto, Rugaiya Usman
- Berikut rangkuman lawatan Ratu Máxima di Indonesia
- Uji Kompetensi Wajib? Strategi Kemnaker Perkuat Daya Saing Lulusan Magang
- Abdul Razak Nasution Tidak Paham AD/ART dan Peraturan Organisasi
- Kapolres Bulukumba: Polri Terbuka Kritik, Reformasi Harus Sentuh Kultur
- Profil Sari Yuliati pengganti Mukhtarudin sebagai sekretaris F-Golkar di DPR
- Kilas balik hubungan bersejarah Prabowo dan Raja Yordania