Tentang Sebuah Kota - Catatan Dr.H. Syahganda Nainggolan

Dr. H. Syahganda Nainggolan. (Foto : Ist) Catatan Dari Hotel Karantina Hari ke Lima Tentang Sebuah Kota (Dr. Syahganda Nainggolan) Hari ini hari ke 5 aku di karantina. Seminggu setelah PC...

Tentang Sebuah Kota - Catatan Dr.H. Syahganda Nainggolan
Bacakan Artikel

Hari ini aku ingin bertukar pikiran tentang kota.

Alkisah ketika paman istriku Stef (Stefanus) Vanden Eijnden berjanji untuk membawa kami keliling Amsterdam. Itu tanggal 20/11. Dia adalah seniman jalanan (istilah anak2 Taman Ismail Marzuki), yang sejak usia 26 tahun mengamen di cafe-cafe Amsterdam. Sekarang umurnya 70 tahun. keahliannya alat Akordion, berkata-kata dan menyusun plot. Pernah cukup lama dia menyewa Roode Bioskop, Amsterdam, sebagai tempat teaternya.

Meskipun istriku bapaknya kerja 20 tahun di KLM yang bermarkas di Amsterdam, tapi mengetahui Amsterdam dari seniman semacam Stef tentu berbeda. Awalnya kami menawarkan Stef ketemuan makan siang, kami yang traktir. Tapi Stef mengajak kami untuk mengelilingi Amsterdam selama 4 jam. Jalan kaki. Saya mulai berpikir tentang kemampuan kaki saya, cuaca dingin dan apakah selama itu? Alkisah ini akhirnya terjadi.

Jam 10 pagi Stef menjemput kami di Amsterdam Central Stasiun. Kami sudah lebih awal datang, menyeberang beberapa menit dengan Ferry Boat, dari Hotel Botel, Hotel terbuat dari kapal. Hotel ini di depan Kantor Greenpeace Belanda. Kami datang jam 9 agar aku bisa test antigen di sebelah stasiun. Tets antigen syarat bisa masuk Cafe, nantinya.

Di Belanda istilah jam sangat presisi. Kalau kami berjanji jam 10, maka itu harus terjadi. Mulailah kami menyusuri rute pusat kota Amsterdam. Dari depan stasiun arah jalan ke kanan langsung menyusuri kanal-kanal menuju NoorderMarkt. Amsterdam adalah kota yang dibangun ratusan tahun lalu atau bahkan 1000 tahun lalu. Kanal-kanal di dalam kota dibangun untuk mengurai air yang melimpah dari sungai Amstal dan IJ, karena pemukiman mereka 0,5 meter di bawah laut. Nelayan yang akan melaut, terhubung ke laut Utara Amsterdam setelah terusan dibangun melalui sungai IJ ke laut. Pola kota dibangun dalam pola mirip separuh jaring laba-laba, dengan antara bagian dalam ke arah luar dikelilingi air.

Cerita lebih detail tentang kanal dan pembangunan kota Amsterdam dapat didalami melalui berbagai sumber yang tersedia di Google. Saya kembali pada fokus tentang kota. Setelah berjalan hampir satu jam berputar-putar, kami tiba di NoorderMarkt. Jarak tempuh tercepat dari stasiun ke NoorderMarkt sebenarnya hanya 15-20 menit, apalagi jalan di Belanda dengan orang Belanda dan musim dingin. Satu yang dihabiskan untuk "sight seeing" ini adalah untuk melihat, merasakan, mencium aroma kota Amsterdam. Rumah-rumah di pinggir kanal tertata indah dan umumnya berumur ratusan tahun. Indah baik warnanya maupun sky-line yang membentuk keterhubungan atap2 rumah mereka. Warna rumah umumnya merah bata. Rumah terdiri dari 4-5 tingkat dengan ukuran lebar yang kecil, sekitar 4 meter. Bagian atas menjorok sedikit ke depan, karena mereka menaikkan barang-barang ke lantai atas melalui tali, sehingga tidak merusak dinding lantai bagian bawah. Tangga-tangga di dalam rumah pastinya kecil, namun mereka sudah terbiasa dengan itu.

Rumah-rumah yang berada di kanal ini, dulu, mempunyai pasar untuk mereka berdagang yang namanya NoorderMarkt. Ini adalah kawasan Jordaan. Kawasan penting di kota Amsterdam. Di sebelah NoorderMarkt telah berdiri lebih dahulu NoorderKerk, Sebuah Gereja. Sudahkah saya bicara tentang kota?

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: