Tentang Sebuah Kota - Catatan Dr.H. Syahganda Nainggolan

Dr. H. Syahganda Nainggolan. (Foto : Ist) Catatan Dari Hotel Karantina Hari ke Lima Tentang Sebuah Kota (Dr. Syahganda Nainggolan) Hari ini hari ke 5 aku di karantina. Seminggu setelah PC...

Tentang Sebuah Kota - Catatan Dr.H. Syahganda Nainggolan
Bacakan Artikel

Ya Kota. Kita bicara kota karena kota itu bukanlah gedung-gedung (saja). Kota adalah tentang pertarungan hidup manusia, tempat berbincang-bincang, tempat berdagang di pasar, tempat tinggal, tempat seni, tempat memuja Tuhan, dan lainnya. Pertarungan hidup dikawasan Jordan ditandai dengan berkali-kali kerusuhan di masa lalu, ketika orang-orang miskin dan kaum buruh menuntut hak hidup di Amsterdam. Pertarungan kapitalis pemilik modal dan kaum buruh untuk merebut hak-hak hidup adalah peristiwa setiap pembangunan kota. Film The Magnificent Seven yang dibintangi Danzel Washington dkk, misalnya, memperlihatkan pertarungan antara kaum buruh tambang emas versus kapitalis yang ingin memiliki sebuah kota. Ada permusuhan, ada tumpah darah, ada kematian, ada rumah ibadah dan lain sebagainya dalam pertarungan merebut hak-hak pengelolaan kota.

Di NoorderMarkt orang-orang berdagang, barang bekas dan murah. Banyak juga barang dari negara lainnya. Berapa umur pasar ini? Umur pasar ini sudah mencapai 400 tahun. Dibangun dengan tenda-tenda. Stef mengajak kami mengelilingi pasar. Yang menarik buatnya adalah menemukan ramainya orang berinteraksi, seperti 400 tahun yang lalu. Kemudian membeli keju organik dan yang sangat menarik adalah tenda penjual jamur untuk makanan. Kami membeli berbagai jamur.

Pasar itu kini tidak setiap hari buka. Mereka berjualan di atas ruang publik. Selama 400 ratus tahun tempat itu tidak digusur konglomerat properti. Bukan karena konglomerat tidak ingin memiliki ruang itu, tapi rakyat bawah sudah berkali-kali menunjukkan kekuatan mereka menentang dominasi kaum kapitalis di sana. Mereka menjaga kota itu.

Setelah puas melihat pasar kami menjuju kafe di pinggir pasar. Sebuah kafe kecil, mungkin namanya kafe Hegeraad. Di Belanda cafe seperti ini disebut Brown Cafe (Bruin Cafe). Karena warna interiornya cokelat gelap. Tapi Cozy/enak, suasananya. Orang-orang bertumpuk di dalam. Mirip-mirip warung kopi di Indonesia. Tidak ada musik. Semua orang-orang datang memang mau minum (bir) dan berbincang-bincang atau ngerumpi.

Stef mengajak kami ke dalam. Hasil test antigenku belum bisa ku upload, ada masalah di handphone. Namun, dengan gaya "Amsterdamer" kami masuk kebagian belakang. Duduk dengan kursi dan meja yang berdesakan dengan pengunjung lainnya. Jas tebal digantung saja di kursi. Stef menyuruh aku dan istri duduk saja, biar dia langsung memesan ke kasir, agar pelayan tidak datang memeriksa QR Code. Kami menghabiskan kopi dan Stef dengan birnya sambil mengobrol.

Pemilik Cafe itu mengenal Stef secara dekat. Pasalnya ketika muda, puluhan tahun lalu, Stef berhasil bernyanyi di cafe itu. Awalnya pemilik kafe menolak, karena aturannya dilarang musik. Namun, Stef berkali-kali meminta agar pengunjung cafe diberikan hak untuk mendengar dia bernyanyi. Dan berhasil. Itu, karena dikenal, yang membuat Stef bisa membawa saya masuk tanpa QR code. Dan cafe itu memuat foto Stef masa muda yang menghibur pengunjung.

Usia kafe ini hampir sama dengan usia pasar. Di ruang publik depan kafe itu, seniman Amsterdam dulu sering tampil menghibur ratusan maupun ribuan pengunjung. Teater publik.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: