Tentang Sebuah Kota - Catatan Dr.H. Syahganda Nainggolan

Dr. H. Syahganda Nainggolan. (Foto : Ist) Catatan Dari Hotel Karantina Hari ke Lima Tentang Sebuah Kota (Dr. Syahganda Nainggolan) Hari ini hari ke 5 aku di karantina. Seminggu setelah PC...

Tentang Sebuah Kota - Catatan Dr.H. Syahganda Nainggolan
Bacakan Artikel

Orang-orang yang datang ke pasar itu, ke kafe dan yang tinggal di rumah-rumah adalah bagian dari sebuah kota. Kota adalah tentang sebuah sejarah yang berkelanjutan. Kota sejatinya adalah pertarungan hidupnya orang-orang miskin melawan dominasi orang kaya. Kota juga adalah sebuah karya seni. Seni, karena kota itu dibangun untuk keindahan warganya. Dan tentu tempat menampilkan karya seni. Tentang karya seni ini, Rembrandt adalah pelukis yang sempat besar di daerah Jordaan itu. Saat ini, ratusan tahun kemudian, atas dukungan pemerintah Belanda, dan pecinta Rembrandt, Museum Belanda akan membeli lukisan Rembrandt Tthe Standard Bearer) yang ada di Prancis, senilai USD 198 juta.

Sehabis dari Kafe Hegeraad kami melanjutkan lagi jalan kaki. Kembali berputar-putar menyusuri jalanan sempit yang indah. Kami berhenti di De Roode Bioskop. Sebuah teater. Itu terkenal dulunya sebagai pusat propaganda kaum buruh. Kami bertemu penjaganya, perempuan cantik, secara kebetulan. Dia membolehkan kami masuk. Sebuah tempat kosong jika tidak ada pentas. Stef menceritakan dulu dia sempat menyewa itu. Di masa pergolakan Komunis eropa abad ke -19, berkali-kali tempat itu diserbu tentara dan polisi Belanda serta preman-preman yang dibiayai kaum pemilik modal. Disebelah De Roode Bioscoop ada Kafe Spinoza. Kafe ini diambil dari nama Benedict Spinoza, filosop keturunan Jahudi Belanda, yang menjadi inspirasi Hegel. Hegel kemudian hari menginspirasi Karl Marx. Mungkin ini alasan yang menjadikan Kafe Spinoza itu dulu mendukung gerakan kiri di De Roode Bioscoop. Kami makan siang di situ. Setelah makan siang, waktu sudah hampir jam 14. Sudah 4 jam kami bersama Stef, berbicara tentang kota, Amsterdam. Kami melanjutkan perjalanan, tepat berpisah arah dengan Stef jam 14, lalu aku dan istri mengurus lagi QR Code di Stasiun. Selanjutnya kami naik ferry parawisata yang membawa keliling kota melalui sungai-sungai dan kanal.

Kembali kepada awal mula cerita ini, ketika aku mengatakan tidak ada kota di Indonesia, khususnya Jakarta, pada istriku, sebenarnya aku ingin menegaskan bahwa kota-kota dikuasai para kapitalis tanpa perlawanan. Mereka membangun gedung-gedung tinggi tapi tidak memiliki makna kota. Tidak ada sejarah, tidak ada kesenian, tidak ada standar (seni) sky-line, orang-orang penghuni lama dibiarkan tersingkir, Masjid digusur, dimusnahkan, dan lain sebagainya.

Bagaimana sebuah peradaban mau dibangun tanpa kita punya sebuah kota? Bagaimana sebuah kota ada kalau rakyat tidak memilikinya. Bagaimana sebuah kota disebut kota kalau tidak berlanjut sejarah kehidupannya??

Demikian dulu.
Salam dari Hotel Karantina

Pilih Halaman: