Hukum Sumpah atas Nama Al-Qur’an dalam Islam: Sah atau Tidak?

JALURDUA.COM – Dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam situasi genting atau pembelaan diri, banyak orang mengucapkan sumpah demi meyakinkan orang lain. Sumpah digunakan sebagai bentuk penguat...

Hukum Sumpah atas Nama Al-Qur’an dalam Islam: Sah atau Tidak?
Bacakan Artikel

وينعقد الحلف بكلام الله لأنه صفة من صفاته تعالى: وينعقد بالمصحف بدون كراهة لأن الحالف إنما يقصد الحلف بالمكتوب فيه وهو القرآن. وكذلك الخلف بالقرآن أو بسورة منه أو بآية أو بحق القرآن فإنه ينعقد يمينًا.

Artinya: “Sumpah menjadi sah dengan menyebut Kalam Allah, karena ia adalah salah satu sifat Allah Ta‘ala. Sumpah juga sah apabila dilakukan dengan menyebut mushaf (Al-Qur’an) tanpa makruh, sebab yang dimaksud oleh orang yang bersumpah dengan mushaf adalah isi yang terkandung di dalamnya, yaitu firman Allah. Begitu pula jika bersumpah dengan menyebut Al-Qur’an, salah satu surah, ayat, atau dengan ungkapan ‘demi hak Al-Qur’an’, maka semuanya dihukumi sebagai sumpah yang sah.”
(Al-Fiqhu ‘Alal Madzahibil Arba’ah, Jilid II, hlm. 70-71)

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa sumpah dengan menyebut Al-Qur’an tetap dihukumi sah asalkan niatnya tertuju pada kalam Allah sebagai firman dan sifat-Nya. Jika yang dimaksud hanya mushaf secara fisik, maka sumpah itu bisa tidak sah.

Kapan Sumpah Al-Qur’an Tidak Dianggap Sah?

Penjelasan lebih rinci datang dari Asy-Syekh Ibrahim al-Baijuri dalam Hasyiyatul Baijuri:

وقوله وكتاب الله والقرآن والمصحف يمين مالم يرد بكتاب الله المكتوب من النقوش و بالقرآن المقروء من الالفاظ التي تقرؤها أو الخطبة و بالمصحف الأوراق والجلد والا فليس يمينا فلا يكون كل ذلك يمينا الا اذا أراد به الصفة القديمة.

Artinya: “Ucapan seseorang seperti ‘Demi Kitab Allah’, ‘Demi Al-Qur’an’, atau ‘Demi Mushaf’ dihukumi sebagai sumpah selama maksudnya merujuk pada sifat qadim Allah (yakni kalam Allah sebagai salah satu sifat-Nya), bukan sekadar Al-Qur’an sebagai tulisan, bacaan, atau mushaf (benda fisik yang terdiri dari kertas dan sampul). Jika niatnya bukan kepada sifat Allah, maka sumpah itu tidak sah.”
(Hasyiyatul Baijuri, Jilid IV, hlm. 426)

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: