Kegalauan dan Politik Gula-Gula Jokowi

Foto : Ekonomi Bisnis.com Setidaknya ada tiga isue besar di tanah air yang seharusnya mesti kita cermati bersama secara serius. Pertama, tentang perpindahan IKN (Ibu Kota Negara) yang sudah keluar...

Kegalauan dan Politik Gula-Gula Jokowi
Bacakan Artikel

Dari berbagai analisa para pengamat yang dikutip oleh banyak media, untuk proyek IKN, PDIP dan Gerindra nampaknya selaras dengan Jokowi. Yang diperkirakan jatah gula-gulanya akan didominasi oleh kedua partai besar ini.

Tinggal tentang penundaan Pemilu ini kita belum lihat sikap tegas dari dua partai besar ini. Secara harfiah, kita semua yakin penundaan Pemilu akan sulit di terima PDIP dan Gerindra. Karena, dua partai ini sudah sepakat akan memajukan duet Prabowo-Puan di Pilpres 2024.

Megawati selaku ketua umum, tentu juga punya kepentingan kuat bagaimana mempertahankan trah darah Soekarno dalam kepemimpinan nasional. Prabowo begitu juga. Pilpres 2024 juga adalah, kesempatan terakhir beliau untuk tampil mengingat usia yang sudah menembus angka di atas 70an tahun.

Untuk isu penundaan Pemilu ini yang otomatis perpanjangan jabatan Presiden, kita lihat Jokowi juga cukup hati-hati memainkan bidak catur politiknya. Ini terlihat, dari yang menyuarakan pertama kali penundaan Pemilu itu adalah dari para pendukung lapis dua-nya Jokowi. Yaitu para ketua partai politik dan salah satu menteri yang secara posisi tidak terlalu strategis. Suara para ketua partai yang bersuara pun adalah mereka yang dalam ingatan publik juga para ketua partai politik yang “punya rekam jejak masalah” dimana keberlanjutan masalahnya itu tergantung Pak Jokowi (Politik sandera).

Artinya, ada hatrik politik tingkat tinggi yang sedang di mainkan. Yaitu trik politik gula-gula tadi. Politik gula-gula berupa jatah kavling dalam keberlangsungan proyek IKN ? Dan politik gula-gula sandera kasus politik. Ibarat ada madu, tapi juga racun dalam satu gula-gula politiknya.

Cuma yang kita sayangkan, gara-gara politik gula-gula inilah kadang-kadang akal sehat politik tidak lagi berjalan. Kepentingan rakyat diabaikan. Sehingga kerusakan demi kerusakan terus melanda negeri ini tanpa ampun.

Dalam kaca mata akal sehat opini publik saat ini adalah, penundaan pemilu, akan sama dengan perpanjangan jabatan Presiden. Perpanjangan masa jabatan Presiden maka akan semakin panjang rezim otoriter ini berjalan. Akan semakin terus bertambah hutang negara yang akan di tanggung rakyat. Akan semakin lama pembungkaman terhadap demokrasi. Akan semakin banyak para aktivis dan ulama terbelenggu tirani hingga dipenjarakan. Akan semakin meluas penyakit Islamphobia yang bisa menghancurkan keharmonisan sesama anak bangsa, akan semakin banyak BUMN tergadai, harga bahan pokok, listrik, BBM, berbiaya mahal. Kesimpulannya, jika semakin lama rezim ini berkuasa, maka bisa jadi rakyat akan semakin menderita, oligharki semakin berjaya.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: