Menjaga Wibawa Negara di Era Media Sosial

Oleh: Prof. Eggi Sudjana - Advokat & Ketum GPPSDA-LH. Hari ini kita hidup di era media sosial, di mana setiap orang bisa bicara langsung ke publik. Celakanya, sebagian kepala pemerintahan ikut...

Menjaga Wibawa Negara di Era Media Sosial
Bacakan Artikel

Ucapan bukan sekadar komunikasi, tetapi pertanggungjawaban moral dan spiritual.

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak benar-benar mengetahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra: 36)

Ini adalah peringatan keras, jangan bicara tanpa data, tanpa verifikasi, apalagi spontan emosional.

Inilah prinsip yang sejalan dengan UU Administrasi Negara & Protokol Pemerintahan hari ini.

Analogi Sederhananya,
bayangkan seorang dokter ahli bedah. Ia boleh jelaskan kondisi pasien. Tetapi tidak boleh sembarang live di Instagram, dll saat operasi, karena yang ia bawa bukan dirinya pribadi, melainkan nyawa pasien.

Begitu juga kepala pemerintahan, yang ia bawa bukan dirinya pribadi, melainkan nama negara, stabilitas publik, bahkan kepercayaan rakyat.

Perlu hati-hati, karena setiap ucapan pejabat negara otomatis dianggap sebagai sikap resmi negara, bukan lagi opini pribadi. Efeknya bisa ke politik, hubungan luar negeri, hukum, ekonomi, bahkan psikologi masyarakat.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: