Perjalanan Kolonial Pemburu Rempah Hingga Perubahan Watak Menindas
Presiden RI, Ir. Joko Widodo - Dr. Setiabudi Douwes Dekker : Gambar Ilustrasi. Oleh : Agusto Sulistio – Pegiat Sosmed, Eks Kepala Aksi & Advokasi PIJAR Semarang (1996 – 1999). Majunya perad...
Atas aksi itu muncul perlawanan lokal diberbagai wilayah, namun perlawanan pribudi tak mampu menekan Belanda hengkang dari wilayah Nusantara. Aksi propaganda pun tak pelak digunakan, hingga tak sedikit bangsa pribumi yang digunakan sebagai kaki tangannya kolonial untuk lancarkan aksi eksplorasi lahan warga.
Aksi kolonial semakin meluas, sehingga kemudian guna kelancarannya pada tanggal 20 Maret 1602 Belanda membentuk Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Persekutuan Perusahaan Hindia Timur guna menangani lahan-lahan jajahan Belanda diseluruh wilayah Hindia Belanda, untuk keperluan kebutuhan dalam negerinya juga bisnis perdagangan di kawasan Eropa.
Perkembangan jaman dan peradaban manusia saat itu memunculkan pergeseran kontelasi politik dalam parlemen pemerintahan Belanda. Aksi kolonial Belanda terhadap Nusantara perlahan mulai mendapat kritik dan desakan darindalam negerinya.
Partai sosialis-liberalis Belanda yang saat itu masuk dalam Parlemen, mulai memunculkan pandangan dan kritik soal kemanusiaan. Rasa prihatin terhadap kondisi sosial ekonomi kaum pribumi (Inlander) Nusantara yang terjajah oleh Pemerintah Belanda. Kritik dan desakan itu pun muncul juga dari bangsa pribumi, serta kaum bangsawan terpelajar Nusantara yang sekolah dan bekerjasama dengan kolonial saat itu.
Baru kemudian Pemerintah Belanda ditahun 1864 mulai merasakan desakan dari kekuatan partai Sosialis didalam negerinya, sehingga akhirnya pemerintah Belanda merubah sistem kolonialnya dengan menghilangkan sistem tanam paksa, dengan sistem ekonomi liberal, dan kemudian membuka ruang bagi pemodal swasta lainnya bisa masuk ke Nusantara.
Selain itu partai sosialis - Liberal Belanda juga kemudian memunculkan pemikiran progresif dalam parlemen, yang menggiring Pemerintah Belanda keposisi yang lebih manusiawi, yaitu mempunyai kewajiban moral mensejahterakan penduduk Hindia Belanda (Nusantara), yang selama itu bangsa pribumi telah memberikan kemakmuran bagi masyarakat dan kerajaan Belanda pada khususnya serta keuntungan perdagangan rempah dari hasil koloninya di Nusantara.
Langkah ke arah Kemanusiaan tersebut dikenal dengan istilah Politik Etis (politik balas Budi), yang dimaknai sebagai kesadaran kolektif Pemerintah kolonial Belanda membalas budi kepada bangsa pribumi atas hasil yang dicapai, mulai dari program tanam paksa hingga hal lain yang menguntungkan sepihak bagi Belanda.
Politik Etis disisi lain bagi bangsa pribumi saat itu, khususnya kalangan terpelajar menjadi sebuah momentum yang positif dan strategis untuk melanjutkan cita-cita perjuangan pendahulunya seperti Diponegoro, Imam Bonjol, Patimura, dll. Lalu kemudian muncul pemuda pelajar Nusantara salah satunya Pahlawan Nasional Douwes Dekker, atau Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker, yang dikenal dengan nama Setiabudi (Danudirja Setiabudi). Ia juga merupakan peletak dasar lahirnya kesadaran Nasionalisme dan penggagas nama Nusantara.
- Profil Sari Yuliati pengganti Mukhtarudin sebagai sekretaris F-Golkar di DPR
- Kilas balik hubungan bersejarah Prabowo dan Raja Yordania
- Raja Yordania Abdullah II sambangi Indonesia, berikut profilnya
- Profil istri Wiranto, Rugaiya Usman
- Berikut rangkuman lawatan Ratu Máxima di Indonesia
- Polres Bulukumba Tegaskan Penanganan Terbuka Dugaan Penistaan Agama
- Ramadan Berkah di Bulukumba: Operasi Helm Berubah Jadi “Ngaji On The Road”
- Andi Endang: Ramadhan Momentum Rekatkan Pemerintah dan Masyarakat
- Wagub Sulsel Resmikan Gerakan Anti-Stunting di Bulukumba, Puji Penurunan 8,5 Per...
- Pemudik yang Sudah Vaksin Booster Tak Perlu Tes Antigen dan PCR