Perjalanan Kolonial Pemburu Rempah Hingga Perubahan Watak Menindas

Presiden RI, Ir. Joko Widodo - Dr. Setiabudi Douwes Dekker : Gambar Ilustrasi. Oleh : Agusto Sulistio – Pegiat Sosmed, Eks Kepala Aksi & Advokasi PIJAR Semarang (1996 – 1999). Majunya perad...

Perjalanan Kolonial Pemburu Rempah Hingga Perubahan Watak Menindas
Bacakan Artikel

Setiabudi (Douwes Dekker) adalah keturunan blasteran Belanda Jerman Pekalongan, Ayahnya yang berdarah Belanda, dan Ibunya berdarah Jerman-Pekalongan. Setiabudi lahir di Pasuruan, Jawa timur (1879 - 1950), dan tercatat pernah menempuh pendidikan di Universitas Zurich.

Sikapnya yang menentang penjajahan yang dilakukan oleh kolonial Belanda kemudian melahirkan Organisasi Tiga Serangkai yang ia dirikan bersama Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Surjaningrat. Profesinya sebagai wartawan, penulis dan aktivis pergerakan semakin membuat dirinya terus mengkritik dan melawan kolonial. Menggalang kekuatan bumi putra, mencerdaskan pribumi lewat media yang ia tulis bersama kawan-kawan seperjuangan lainnya. Mendirikan sekolah-sekolah liar dengan merekrut pemuda pelajar lainnya baik yang telah lulus sekolah di Eropa maupun sekolah Belanda di Nusantara untuk memberikan pencerahan dan pendidikan soal nasionalisme, ekonomi, politik, jurnalistik, perburuhan, dll kepada bangsa pribumi umumnya.

Bahwa kenyataannya perjalanan sejarah kolonial Belanda dari masa kemasa mengalami perubahan. Pola gerakan yang menindas seiring berkembangnya jaman, dan waktu. Meski perubahan sikap koloni saat itu tidak terjadi secara drastis dan menyeluruh, namun fakta membuktikan bahwa telah lahir pemikiran progresif baik di negara asal koloni (Belanda) maupun bangsa terjajah bahwa telah terjadi kesadaran bahwa penindasan, penjajahan sudah tak lagi relevan, sehingga perlu adanya suatu langkah atau konsep kerjasama yang lebih kooperatif dan manusiawi, baik pada soal-soal lahan/tanah, maupun soal kesempatan pendidikan, dll.

Sehingga saat itu penyelesaian persoalan lahan/tanah mengalami kemajuan, walau masih jauh dari sempurna. Hal ini dapat maklumi, namun sesuai dengan jamannya, yang saat itu berada di abad ke18, tentu hal ini merupakan lompatan yang fantastis, masa sebelum Indonesia merdeka.

Memasuki masa kemerdekaan proklamasi tahun 1945, persoalan Agraria tak lagi didominasi oleh aksi kolonial Belanda, namun bergeser pada aksi sengketa antar warga, kerajaan, adat, terhadap Pemerintah Indonesia juga Belanda. Konflik antar warga, kerajaan, adat, Belanda pun tak terelakkan dan berlangsung lama, sejak proklamasi hingga sekitar tahun 1949. Juga kemudian terjadi upaya perlawan dalam negeri terhadap jalannya kekuasaan pemerintahan Soekarno, baik terkait persoalan wilayah, idiologi, dll.

Belanda yang setelah Indonesia proklamasikan kemerdekaannya terus menekan Pemerintah Soekarno, baik secara fisik dalam agresi militer 2 Belanda tahun 1946, hingga persoalan lahan serta hasil pembangunan yang sudah dilakukan selama menjajah Indonesia, disamping pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan NKRI.

Akhirnya atas pengalaman itu para tokoh dan pemimpin Indonesia saat itu baru menyadari akan pentingnya dialog setelah kemerdekaan Indonesia dengan pihak penjajah Belanda, terkait soal pengakuan, kedaulatan dan pemindahan kekuasaan, dll termasuk soal lahan agraria. Dimana saat itu masih menyisakan kontrak kerjasama / jual beli lahan antara VOC dengan pribumi.

Maka kemudian terjalin kesepakatan membahas persoalan peralihan kekuasaan didalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Pembahasan tersebut dilaksanakan di Gedung Parlemen, Den Haag, Belanda pada tanggal 23 Agustus 1949 – 2 November 1949. Agenda itu guna menyelesaikan sengketa antara Indonesia-Belanda yang didalamnya memuat soal lahan/tanah, dll, serta memperoleh pengakuan kedaulatan Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: