Pilpres Tak Berkualitas, Menangkan Kekuatan Modal.

Oleh: Agusto Sulistio - Pegiat Sosmed, Pendiri The Activist Cyber. Pada umumnya Pemilihan Presiden (Pilpres) di negara demokrasi, khususnya di Indonesia, bahwa pemilihan presiden biasanya hanya se...

Pilpres Tak Berkualitas, Menangkan Kekuatan Modal.
Bacakan Artikel

Salah satu indikator bahwa pemilihan presiden tidak berkualitas dan cenderung kauh dari keberpihakan kepada rakyat yang ditandai oleh minimnya para kandidat memberi gagasan konsep kerakyatan dengan melakukan kritik yang konsisten terhadap rezim kekuasaan, serta kekuatan pemodal oligarki yang secara nyata telah disampaikan banyak tokoh dan pengamat telah mengendalikan kekuatan pemerintah, dan merugikan kepentingan rakyat.

Hal tersebut dapat dipersepsikan sebagai bukti nyata bahwa pemilihan presiden telah tersandra oleh kepentingan kekuatan modal yang dapat diartikan telah berkolaborasi dengan partai politik dan kandidat. Maka model pilpres seperti ini tidak bisa diharapkan sebagai pergantian kekuasaan yang mampu membawa perubahan yang diharapkan rakyat.

Theodor Adorno, seorang pemikir dari Sekolah Frankfurt, bersama Max Horkheimer dijamannya telah mengembangkan konsep "industri budaya" dan "budaya massa". Menurut filsuf tersebut bahwa dalam masyarakat modern, budaya dan politik sering kali dikendalikan oleh kepentingan kapitalis dan modal, yang menghasilkan produk budaya yang cenderung menghibur dan mengalihkan perhatian ketimbang mengajak refleksi kritis.

Hal itu tercermin dalam pemilihan presiden, saat para kandidat-kandidat yang mendapat dukungan dari kekuatan politik dan modal cenderung menghindari isu-isu kontroversial dan kritis terhadap rezim yang ada. Bahkan lebih mengharapkan dukungan politik atau melanjutkan program kerja kontroversial, agar terhindar dari sandungan hukum dan manuver politik kekuasaan. Hal ini tak akan terjadi jika kandidat yang maju ke arena Pilpres betul2 bersih, sehingga memungkinkan tak ada celah untuk disandra atau dijerat hukum maupun politik.

Contoh konkret dari pandangan tersebut terjadi pada kampanye pemilihan presiden di berbagai negara, di mana pesan-pesan kampanye sering kali disederhanakan dan disesuaikan dengan selera massa, sehingga tidak mengajak refleksi yang mendalam atau kritik terhadap ketidaksetaraan sosial dan kekuasaan yang ada.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: