<em>Sukarno dan Puan Maharani: Refleksi atas Kekuasaan Oligarki di Indonesia</em>

(Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle, Cirebon, 6/6/2022) Selamat ulang tahun Bung Karno, semoga Allah SWT memberikan tempat yang indah bagimu di alam barzah. Tulisan ini saya uraika...

<em>Sukarno dan Puan Maharani: Refleksi atas Kekuasaan Oligarki di Indonesia</em>
Bacakan Artikel

JALURDUA (Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle, Cirebon, 6/6/2022)

Selamat ulang tahun Bung Karno, semoga Allah SWT memberikan tempat yang indah bagimu di alam barzah.

Tulisan ini saya uraikan untuk merenungkan tahun kelahiran Bung Karno, putra sang fajar. Di mana penderitaan hidupnya telah mengantarkan Indonesia bebas dari penjajahan Belanda, selama 350 tahun. Disamping itu, terkait juga dengan cucunya, Puan Maharani, yang beberapa hari terakhir ini diperbincangkan sebagai duet capres/wapres Indonesia 2024. Apalagi setelah beredar foto-foto Puan melakukan umroh, membuat pengajian dengan Emha Ainun Nadjib dan terakhir foto selfinya bersama Anies Baswedan. Apakah sesungguhnya Puan berhak mewakili ruh perjuangan Bung Karno?

Siapa Sukarno? Pertanyaan ini untuk mendeskripsikan sejarah secara dialektik, bukan deskriptif. Beberapa tahun lalu saya bertanya kepada almarhumah Rahmawati Sukarnoputri, dapatkah dia menjelaskan tentang bapaknya yang bersekutu dengan penjajah Jepang, ketika Jepang menjajah Indonesia? Rahmawati dengan lantang menjawab bahwa bapaknya harus bersekutu dengan Jepang, untuk mengusir Belanda, yang sudah menzalimi Indonesia 3,5 abad. Itu sebuah pilihan sulit. Dan pilihan itu jelas mengantarkan Indonesia merdeka.

Di luar urusan bersekutu dengan Jepang, saya meyakini Sukarno tidak ada keraguan dalam berjuang. Dalam buku saya, "Menggugat Indonesia Menggugat", 2022, dan tulisan saya di RMOL , 2022, "Mengenang Ideologi Sukarno Muda" dan "Syahganda: Bung Karno Menghancurkan Oligarki, tapi Sekarang Oligarki Kembali Berkuasa", diuraikan bahwa Sukarno telah memilih sintesis Sosialisme dan Islamisme dalam ideologi pilihannya. Sukarno menguraikan cita-cita PNI (Partai Nasional Indonesia) selain memajukan ekonomi rakyat miskin, juga memuat pernyataan anti riba. Dari semua rujukan Bung Karno untuk berjuang, dia menyebutkan Partai Syarikat Islam, Budi Utomo dan ISDV (Organisasi yang dibangun Henk Snevlit dengan spirit Sosialisme) sebagai contoh yang patut diteladani.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: