Bagaimana Caranya? Upaya Seragamkan Awal dan Akhir Bulan Puasa
Jalurdua.com - Jakarta | Perbedaan awal dan akhir puasa Ramadan adalah persoalan yang sudah lama ingin diselesaikan oleh pemerintah, astronom, dan pemuka agama Islam. Itu kembali terjadi tahun ini...
"Kalender kan kita buat, bahkan sampai 10 tahun yang akan datang itu sudah bisa kita buat dengan menggunakan kriteria ini sehingga ada kesamaan. Jadi Kementerian Agama sudah melangkah sejak awal untuk berusaha [menyeragamkan]," kata Adib, Direktur Urusan Agama Islam Kemenag.
Namun, belum semua ormas Islam menerima kriteria baru ini. Muhammadiyah, misalnya, bersikeras menggunakan kriteria wujudul hilal dan menganggap kriteria yang ditetapkan MABIMS bersifat terlalu lokal.
Akibat menggunakan kriteria baru ini, kritik Muhammadiyah, selama Ramadan umat Islam Indonesia akan melaksanakan semua ibadahnya sekitar 12 jam lebih lambat dari Muslim di Amerika dan Eropa.
Sekretaris divisi hisab dan Iptek Majelis Tarjih Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo S., mengatakan lewat pesan WhatsApp kepada BBC bahwa kriteria tiga derajat berpeluang lebih besar untuk menciptakan perbedaan daripada kriteria sebelumnya. Muhammadiyah kini mengarah kepada penyatuan kalender hijrah global, yang diharapkan memberikan solusi atas perbedaan puasa Arafah.
Kemungkinan Idul Fitri 1443 H dirayakan serentak
Meski mulai berpuasa pada hari yang berbeda, ada kemungkinan umat Islam akan merayakan lebaran pada hari yang sama yaitu tanggal 2 Mei.
Posisi bulan pada tanggal 29 Ramadhan atau 1 Mei di wilayah Indonesia, tulis Thomas Djamaluddin dalam blognya, diperkirakan berada pada batas kriteria baru MABIMS yaitu tinggi 3 derajat dan elongasi sekitar 6,4 derajat.
Namun, masih ada potensi perbedaan karena hilal diperkirakan akan sangat sulit dirukyat, salah satunya karena kemungkinan mendung dan hujan di lokasi rukyat. Jika itu terjadi, pengamal imkan rukyat mungkin akan menggenapkan Ramadan menjadi 30 hari, sehingga Idul Fitri jatuh pada 3 Mei. Sementara pengamal wujudul hilal akan merayakannya pada 2 Mei.
Bagaimanapun, umat Islam berharap Idul Fitri dapat dirayakan secara bersama-sama. Keseragaman itu penting, menurut Thomas, karena puasa dan lebaran tidak hanya peristiwa agama, tapi juga peristiwa budaya sehingga berdampak pada kegiatan mudik, cuti, dan sebagainya.
"Jadi ini masalah kenyamanan beribadah dan harmonisasi dalam kehidupan masyarakat. Ini yang membutuhkan keseragaman penentuan kalender Islam. khususnya untuk tiga bulan utama — Ramadan, Syawal, dan Zulhijah," kata Thomas.
- Bukayo Saka Baik-baik saja
- Piala FA: Brace Haaland Bawa City Ungguli Liverpool 2-0 di Babak Pertama
- Kejuaraan Asia 2026: Jafar/Feli Ingin Pertahankan Medali, tapi Tetap Realistis
- Soal Rodri, Guardiola: Yang Tak Bahagia Harus Pergi
- Rosenior Tak Akan Cabut Ban Wakil Kapten Enzo Fernandez
- Menjaga Wibawa Negara di Era Media Sosial
- Satu Tahun Prabowo: Jumhur Hidayat Soroti “Execution Gap” dan Dorong Program Mak...
- Siapa yang Lebih Tepat Disebut Keblinger, Prof Eggi atau Dedi Mulyadi?
- Secangkir Kopi Perpisahan di Bundaran Pinisi – Iptu Muhammad Ali & AKP Ahmad...
- Kapolres Bulukumba AKBP Restu Wijayanto Apresiasi Personel Sukses Amankan Operas...