Kedaulatan Ustadz

Setiap predikat di tengah sosial membutuhkan legitimasi. Salah satunya adalah ustadz. Setiap ustadz kerap kita elu-elukan keilmuannya lantaran dianggap bisa menjadi kamus berjalan. Kamus hidup bagi p...

Kedaulatan Ustadz
Bacakan Artikel

JALURDUA Setiap predikat di tengah sosial membutuhkan legitimasi. Salah satunya adalah ustadz. Setiap ustadz kerap kita elu-elukan keilmuannya lantaran dianggap bisa menjadi kamus berjalan. Kamus hidup bagi persoalan-persoalan agama. Pintu ilmu untuk mengorek seputar fiqih, syariat, dan konversi-konversi yang menyertai 'keustadzan' seseorang di tengah kita.

Lalu kita pun terbiasa mengelu-elukan simbol-simbol. Kadang teramat aneh memang jika seseorang yang kita sepakati sebagai ustadz mengecewakan dalam hal penampilan. Standar fisik seorang ustadz tidak pernah jauh-jauh dari peci, kopiah, baju koko, gamis, dan sarung. Kalau perlu dlengkapi jenggot.

Sebagian kita mungkin toleran terhadap penampilan ustadz. Kita lebih merujuk kepada rutinitas ibadah seseorang yang kita sepakati sebagai ustadz dibandingkan penampilan kesehariannya.

Ketika seorang ustadz melanggar pakem-pakem sosial yang tidak tertulis itu maka keustadzannya akan omg mengalami resistensi publik. Setidaknya kekecewaan. Sebab begitulah kita sejak jaman baheula. Mentradisikan kulit luar sebagai acuan utama. Kita lebih sering menyenangi cover dibandingkan isi.

Di masa kini siapapun bisa jadi ustadz. Meskipun dia hanya alumni S1 perguruan tinggi. Meskipun ilmunya tentang Islam masih sangat hijau sebab hanya diperoleh dari buku-buku dan pesantren. Itupun yang dikuasainya hanya dasar-dasar Ilmu Fiqih dan sedikit ilmu hadits.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2