Perjalanan Kolonial Pemburu Rempah Hingga Perubahan Watak Menindas
Presiden RI, Ir. Joko Widodo - Dr. Setiabudi Douwes Dekker : Gambar Ilustrasi. Oleh : Agusto Sulistio – Pegiat Sosmed, Eks Kepala Aksi & Advokasi PIJAR Semarang (1996 – 1999). Majunya perad...

JALURDUA Oleh : Agusto Sulistio – Pegiat Sosmed, Eks Kepala Aksi & Advokasi PIJAR Semarang (1996 – 1999).
Majunya peradaban manusia, bergantinya Pemerintahan setiap lima tahun, Perbaikan UU, Peningkatan Tata Kelola Peraturan bagi Pelayanan Publik, dsb, seharusnya tidak membuat kasus sengketa lahan khususnya, kembali terulang, seperti yang terjadi di Desa Wadas, Kab. Purworejo, Jawa Tengah, dan kasus sengketa lainnya yang tidak ter-ekspos ke publik, serta persoalan sosial, ekonomi, politik, hukum, HAM dan Demokratisasi.
Menilik perjalanan sejarah Indonesia masa lalu, menurut catatan sejarah bahwa persoalan sengketa lahan telah terjadi jauh Kolonial Belanda masuk ke Nusantara pada tahun 1596, yang didahului sebelumnya oleh kedatangan bangsa Spanyol dan Portugis ke Nusantara untuk mengeksploitasi hasil alam, yang utamanya rempah-rempah. Spanyol dan Portugis mulai masuk ke Nusantara sekitar tahun 1511, pertama yakni wilayah kerajaan Malaka, lalu kemudian menuju kerajaan Ternate / Maluku.
Aksi Portugis kemudian tak hanya mengusik para pedagang, pemilik lahan penghasil rempah-rempah di Aceh, Ternate saja, akan tetapi meluas hingga ke kerajaan Demak di pulau Jawa.Hingga akhirnya terjadi perlawanan dari Demak, Ternate, Maluku dan Aceh terhadap aksi penindasan bangsa Portugis dengan membuat aturan dan kerjasama perdagangan yang merugikan pribumi saat itu.
Persoalan yang berujung pertempuran raja-raja Nusantara dengan Portugis kemudian melebar dengan datangnya Belanda jelang awal abad 16 di Banten, Pulau Jawa. Awal kedatangannya Belanda tidak menampakkan sikap seperti saat akhir hubungan Portugis dengan raja-raja Nusantara memanas.
Masuknya Belanda ke Nusantara didasari kebutuhannya akan rempah-rempah bagi bangsanya, setelah Spanyol menjajah Belanda yang kemudian melarang menerima suplai rempah-rempah dari Portugis, sebagaimana terjadi sebelumnya. Sehingga atas keadaan ini tak ada pilihan bagi Belanda untuk melakukan pencarian rempah-rempah di Nusantara saat itu.
Namun kemudian setelah melihat sumber alam Indonesia, serta peluang perdagangan rempah di Eropa yang menguntungkan dan tingginya kebutuhan bangsanya akan rempah-rempah, merubah niat awal Belanda untukmembeli rempah-rempah, berubah menjadi kolonial.
Kerjasama sewa lahan, perdagangan bergeser menjadi penghisapan, pemaksaan, penindasan kepada bangsa pribumi Nusantara. Sehingga terjadilah konsentrasi untuk menguasai lahan dan hasilnya, dibarengi dengan mendangkan kekuatan armada kapal, artileri, tentara dan membuat benteng, markas kolonial diberbagai wilayah Nusantara sebagai basis pertahanan yang sekaligus mengawal jalannya aksi VOC.
- Profil Sari Yuliati pengganti Mukhtarudin sebagai sekretaris F-Golkar di DPR
- Kilas balik hubungan bersejarah Prabowo dan Raja Yordania
- Raja Yordania Abdullah II sambangi Indonesia, berikut profilnya
- Profil istri Wiranto, Rugaiya Usman
- Berikut rangkuman lawatan Ratu Máxima di Indonesia
- Polres Bulukumba Tegaskan Penanganan Terbuka Dugaan Penistaan Agama
- Ramadan Berkah di Bulukumba: Operasi Helm Berubah Jadi “Ngaji On The Road”
- Andi Endang: Ramadhan Momentum Rekatkan Pemerintah dan Masyarakat
- Wagub Sulsel Resmikan Gerakan Anti-Stunting di Bulukumba, Puji Penurunan 8,5 Per...
- Pemudik yang Sudah Vaksin Booster Tak Perlu Tes Antigen dan PCR