THR 2022 Cair di Tengah Naiknya Harga Diianggap tak Setimpal: ‘Saya Harus Nombok‘

Gambar : Ilustrasi Jalurdua.com - Jakarta | Kebijakan pemerintah Indonesia mengucurkan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi aparatur sipil negara (ASN) seiring dengan mewajibkan perusahaan membayar penu...

THR 2022 Cair di Tengah Naiknya Harga Diianggap tak Setimpal: ‘Saya Harus Nombok‘
Bacakan Artikel

Bahkan, Rahma juga harus menahan diri untuk tidak mudik karena tak ada cukup dana, meski telah dua tahun ia tidak pulang kampung saat Lebaran.

Baik Ardi dan Rahma sama-sama berharap pemerintah bisa kembali menstabilkan harga-harga, sehingga meringankan beban mereka.

Dengan demikian, anggaran THR yang hanya datang sekali setahun bisa kembali mereka manfaatkan untuk membeli baju anak, mengirimkan uang pada orang tua, dan keperluan Lebaran lainnya.

Sedangkan Ilham, pegawai negeri sipil di sebuah kementerian yang meminta namanya disamarkan, berpendapat kebijakan pemerintah mengucurkan dana THR bagi ASN belum setimpal dengan beban ekonomi yang ditanggung.

Meski nilai THR yang diterima ASN pada tahun ini meningkat dibanding tahun lalu, dia menyatakan bahwa jumlahnya masih 50% lebih kecil apabila dibandingkan dengan sebelum pandemi. Menjelang Lebaran ini, dia pun memilih untuk menahan pengeluaran untuk kebutuhan tersier.

THR 2022 tak realistis?
Ekonom INDEF, Rizal Taufikurahman memprediksi bahwa kucuran dana THR bagi ASN, pekerja swasta, serta dana bantuan sosial hanya akan menumbuhkan angka konsumsi rumah tangga sebesar 0,4%.

Menurut dia, kucuran THR sebetulnya sebetulnya dapat meningkatkan konsumsi sebesar 1,2% pada kebutuhan Lebaran seperti pangan, pakaian, dan transportasi untuk mudik. Apalagi, lebih dari 80 juta orang diprediksi akan pulang kampung setelah pemerintah untuk pertama kalinya membebaskan mudik Lebaran sejak pandemi melanda.

Tetapi di saat yang sama, kenaikan harga BBM, pangan, dan PPn menyebabkan konsumsi rumah tangga juga menurun sebesar 0,8%.

Oleh sebab itu, Rizal menilai target pemerintah untuk "meningkatkan daya beli masyarakat" melalui kucuran dana THR dan bantuan sosial ini tidak realistis.

"Ini berat, kalau mau mendorong konsumsi seharusnya pemerintah jangan menaikkan harga, tahan dulu. Setelah Lebaran baru dinaikkan secara perlahan. Ini kan ujug-ujug ditekan semua, jadi konsumsi pasti turun," jelas dia.

Selain itu, peningkatan daya beli bisa tak tercapai apabila ternyata pihak swasta belum sepenuhnya mampu mengikuti jejak pemerintah dengan mengucurkan dana THR secara penuh.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: